Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2013

Malam Ini

Malam ini aku sembunyi Dari kelip bintang yang menari Duduk termenung sendiri Mengharapkan dirinya kini Tuk sekedar menemani Temani jiwaku yang sepi Sunyi tak berpenghuni Malam ini aku sembunyi Dari bisikan hati yang mati Dari raungan jiwa yang sepi Dari caci maki layaknya duri Dari rintihan relung hati Masih malam ini Aku merasa sepi Jiwaku terasa sunyi Tapi aku tak sendiri Sang malam 'kan menemani Meskipun ia dingin Meskipun ia ingin pergi (nbl, 14 /09/2013)

(berita: penilaian sekolah Adi Wiyata Mandala) Foursma: "Nothing to Something"

Tidak mendapat kepercayaan pada awalnya tak membuat Foursma menyerah. Berbagai upaya dilakukan untuk menjadikan Foursma sebagai sekolah berwawasan wiyata mandala. Hal ini diterangkan oleh Drs. I Wayan Rika (3/9) lalu dalam pidatonya.             Lomba Wawasan Wiyata Mandala yang mengusung tema “Sekolah Berbudaya Berlandaskan Tri Hita Karana” ini disambut oleh semua atmosfer di sekolah kita tercinta, Foursma. Hal ini dapat dibuktikan dengan sambutan dari pagar ayu serta pagar bagus, anggota Kelompok Seni Musik, anggota Tabuh Sanggar Werdhi Yowana dan anggota Paskibra-4. Para mitra Foursma bahkan turut andil dengan memberi dukungan berupa selamat dan sukses. Mulai dari Peirce Secondary School Singapore, SMA PGRI 2 Denpasar, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Denpasar, Goethe Institut German, The Affiliated High School with Knot South Korea, SMPN 7 Denpasar, Modern School India, Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI...

Karang dan Lautan

Karang di tengah laut, menanti mentari pagi, menyongsong mentari senja, tak gentar akan ombak ganas yang menerjangnya. Dan bila badai menghadang, sang karang tetap di sana, berdiri gagah tak peduli. Sang karang di lautan. Tak akan hancur karna badai. Ia hanya tergerus waktu. Tapi ia tetap di sana. Berdiri dengan hebatnya. Bila suatu saat karang terhempas. Tergerus. Jauh. Hilang. Tapi laut tetap di sana. Menggemakan gelombang ombak nan abadi. Kapal yang menabrak sang karang akan hancur. Dan sang karang dengan tenangnya diam beribu bahasa, seakan tak terjadi apa-apa. Dan ia tersenyum pada lautan. Sang laut menyambutnya dengan ombak yang menggulung riang. Seakan tertawa dalam sinar rembulan terang. (nbl, 5 Sept 2013)