Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2021

'Tuhan yang Kesepian': Blak-blakan "Nyentil" Para Muslim Masa Kini

Gambar
bisa dibaca gratis di iPusnas^^ Hampir semua buku tentang keislaman yang pernah kubaca punya tone  yang positif, kalem, dan berisi nasehat yang gamblang. Tapi, buku karya Tasirun Sulaiman ini beda banget. Dia berhasil bikin aku ngomong dalam hati, "Oh iya, ya... Kok gak kepikiran, ya?". Isinya bicara soal realita gimana ajaran Islam diterapkan melenceng dari yang seharusnya. Jadi semacam menyindir, tapi pesannya balik untuk pembaca muslim juga. Buku ini di luar dugaan ternyata bagus. Berisikan sarkas penerapan ajaran Islam saat ini. Tentang mereka yang hipokrit, yang mati-matian belain Islam pakai slogan agama yang paling benar, tapi juga bikin perpecahan sendiri. Tentang ada banyak orang haji atau umroh, tapi hatinya sebenernya kosong karena niat ibadah itu untuk dirinya (biar dipanggil pak haji, biar dihormati orang, biar naik jabatan, dll). Bukan murni karena Allah. Out of the box karena penulis seperti ngajak kita buka mata, belajar jadi muslim yang baik dari hal-hal yan...

Merawat Perbedaan, Katanya

Gambar
kita terlalu sibuk membela kelompok sendiri sampai lupa sudah menyakiti hati kelompok lainnya. Setelah merantau jadi sadar, ketaatan beragama itu tergantung dari diri sendiri. Kadang nggak selalu dipengaruhi lingkungan. Mau tinggal sebagai mayoritas atau mau tinggal sebagai minoritas, yang terpenting adalah gimana kita punya prinsip ketuhanan sesuai dengan yang kita percaya. Jadi bagian dari mayoritas, menurutku, nilai plusnya adalah kita bisa menikmati fasilitas dengan mudah. Terus bisa mudah menemukan teman yang satu keyakinan. Tapi nggak semua yang satu keyakinan itu taat. Pun sebaliknya, sebagai minoritas kita mungkin ga dapet akses adzan dari masjid terdekat atau sulit ke gereja atau nggak bisa mebanten layaknya di daerah asal. Beberapa temen ada yang nggak boleh makan sapi dan ada yang nggak boleh makan babi. Tapi mereka selalu mengingatkan kita utk beribadah, bahkan saat nurani kita pengen lalai dengan sengaja. Ada kalanya aku merasa lebih nyaman tinggal sebagai minoritas atau ...