Merawat Perbedaan, Katanya

merawat-perbedaan
kita terlalu sibuk membela kelompok sendiri sampai lupa sudah menyakiti hati kelompok lainnya.


Setelah merantau jadi sadar, ketaatan beragama itu tergantung dari diri sendiri. Kadang nggak selalu dipengaruhi lingkungan. Mau tinggal sebagai mayoritas atau mau tinggal sebagai minoritas, yang terpenting adalah gimana kita punya prinsip ketuhanan sesuai dengan yang kita percaya. Jadi bagian dari mayoritas, menurutku, nilai plusnya adalah kita bisa menikmati fasilitas dengan mudah. Terus bisa mudah menemukan teman yang satu keyakinan. Tapi nggak semua yang satu keyakinan itu taat. Pun sebaliknya, sebagai minoritas kita mungkin ga dapet akses adzan dari masjid terdekat atau sulit ke gereja atau nggak bisa mebanten layaknya di daerah asal. Beberapa temen ada yang nggak boleh makan sapi dan ada yang nggak boleh makan babi. Tapi mereka selalu mengingatkan kita utk beribadah, bahkan saat nurani kita pengen lalai dengan sengaja.

Ada kalanya aku merasa lebih nyaman tinggal sebagai minoritas atau di lingkungan yang heterogen. Kenapa? Karena di sanalah kita bisa memahami toleransi lebih dalam dan saling menghormati. Nggak sekadar pelajaran budi pekerti yang tertulis di buku teks sekolah. Lingkungan heterogen membuat kita paham bahwa ada buanyak orang yang lahir dari kultur, suku, budaya, dan agama yang berbeda. Artinya kita nggak bisa memaksakan ego. Termasuk menutup warung-warung di siang hari saat bulan puasa seperti yang sering terjadi di lingkungan mayoritas muslim (tapi resto besar boleh buka katanya). Nggak bisa. Di saat seperti itu, ada banyak kepentingan orang yang tidak terakomodir. Nggak cuma bagi orang beragama lain aja. Lansia, misalnya. Orang sakit dan ibu hamil. Maksa nutup dan sidak warung yang buka hanya akan memutus rezeki orang. Nggak ada ngaruhnya sama keimanan dan ketaatan. Tapi bagi kelompok mayoritas, mungkin, warung-warung itu "mengganggu kesucian bulan puasa". Bulannya padahal tetap suci, entah warung buka atau tidak. Hati yang diniatkan ibadah karena Allah, insya Allah nggak goyah; mau teman sekelasmu makan siang pas bulan puasa atau minum khamr pas lagi nongkrong. Malah kalau tinggal sebagai mayoritas tuh terkadang terasa sifat eksklusifnya. Mudah bikin manusia merasa "paling benar/tau" dan "paling keren". Padahal, ya nggak cuma manusia jenis elu dengan selera lu yg tinggal di bumi ini.


Kadang pas liat orang-orang dari kelompok mayoritas bikin kebijakan publik yang berat sebelah (hanya mewakili kepentingan doi aja), ingin rasanya bilang, hey ayo coba situasinya di balik. Cobain tinggal sebagai minoritas. Bukan cuma urusan keagamaan, tapi juga hal kemanusiaan. Coba banyakin ngobrol dengan orang-orang disabilitas atau perempuan pekerja, misalnya, dan fasilitasi kepentingannya. Niscaya ada banyak hal yang berubah jadi lebih baik.


Selamat puasa dan selamat hari Kartini (yang telat sedikit)!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

^^

Things That Make Me Happy♡

TAYVIN ENDED