Hidup di antara Gadget dan Socmed (opini)
Gadget
dan socmed. Dua hal yang tak bisa
lepas dari kehidupan remaja. iPhone, BlackBerry,
dan sebangsanya sudah lumrah kita temui. Dengan kecanggihan dan fitur-fitur
terbaru yang ditawarkan semakin menarik remaja seusia kita. Di manapun kita
berada, akan ada ABG yang menenteng gadget-gadget
baru lalu tenggelam dalam dunianya, dan melupakan lingkungan sekitar.
Mengikuti perkembangan jaman. Adalah
salah satu faktor kenapa kita tergiur membelinya. Meskipun sebagian besar
barang-barang tersebut memiliki harga selangit, namun tidak menyurutkan minat
kita untuk membelinya, bukan? Banyak yang bilang kita harus up-to-date, jadi setiap ada gadget keluaran terbaru kita wajib
membelinya. Gengsi dengan teman-teman yang sudah lebih dulu membeli. Tapi ada
juga yang bilang itu hanya akan jadi pemborosan semata, apalagi bila tidak
digunakan dengan tepat.
Selain gadget, socmed alias social media juga lekat sekali dengan
kehidupan kita. Sebagian besar dari kita pasti memiliki Facebook, Twitter, Instagram, Skype, dan lain-lain. Memiliki akun
pada jejaring sosial akan membuat kita dan teman-teman jadi lebih dekat, dan
mudah mendapat berbagai informasi terbaru. Bahkan banyak yang nenemukan
teman-teman lamanya dengan jejaring sosial tersebut. Ada juga yang menjadikan
jejaring sosial sebagai tempat mencurahkan isi hati dan ber-galau ria.
Alasannya, lebih mudah dibandingkan harus bicara.
Inilah yang biasanya menjadi
masalah. Melegakan, tetapi berbahaya. Memang lebih mudah, tetapi curhat di
jejaring sosial sama saja dengan menyiarkan masalah pribadi kita kepada orang
lain secara luas dan bebas, sehingga sesuatu yang bersifat personal bisa
menjadi konsumsi khalayak banyak. Inilah yang bisa menjadi pemicu timbulnya cyber bullying, yakni kekerasan yang
terjadi di internet. Jenis-jenis cyber
bullying dapat berupa flaming,
yaitu tindakan provokasi, mengejek, atau penghinaan yang menyinggung orang
lain. Masquerading, yaitu ketika
seseorang berusaha keras memakai identitas orang lain dalam mem-bully orang. Anonymity, mengganggu orang lain dengan menggunakan nama anonim
atau menyembunyikan nomor ponselnya sehingga identitas aslinya tak terdeteksi. Harrassment, meneror pihak lain dengan
pesan-pesan yang menyakiti baik lewat SMS, BBM, atau media online. Outing, yaitu
ketika pem-bully menyebarkan foto-foto pribadi korban bullying.
Gadget
dan socmed juga terkadang membuat
kita lupa waktu, juga melupakan keadaan sekitar. Gara-gara keasyikan BBM atau
chatting, kita lupa makan, lupa beristirahat, lupa waktu karena melakukannya
hingga larut malam, dan lupa waktu belajar. Gara-gara bermain dengan gadget, kita sampai tak mempedulikan
orang-orang dan keadaan di sekitar kita.
Tenang saja, gadget dan socmed tidak
melulu berdampak negatif. Gadget memudahkan
kita untuk berkomunikasi dengan siapa saja, kan? Bayangkan bila kita tak
memiliki ponsel, kita tak bisa memberitahu teman bila ada sesuatu penting yang
bersifat personal, kita akan kesulitan mencari bahan pelajaran, kita tak bisa
men-stalking idola di twitter, tak bisa mengunduh lagu-lagu,
tak tahu permainan yang sedang in,
dan mungkin masih banyak lagi. Ya, tak dipungkiri kita tak bisa hidup tanpa gadget. Selama kita bisa mengatur waktu
antara belajar dan bermain games,
tentu tidak akan jadi masalah. Jadi, semuanya memang berasal dari kesadaran
diri kita sendiri. Apabila kita tidak memakai gadget secara berlebihan, tentu masalah yang ditimbulkan dapat
berkurang. Dan saat kita bermain di socmed
hendaknya menyaring kata-kata yang akan di-share
agar teman-teman yang melihatnya tak mudah tersinggung. Dengan begitu, kita
akan meminimalisir terjadinya cyber
bullying, bukan?
(nbl)
Komentar
Posting Komentar