Stop Cyber Bullying! (laporan utama - mading spentri)



Di era globalisasi ini, sudah lumrah bagi sebagian remaja untuk memiliki akun di berbagai jejaring sosial, seperti facebook, twitter dan lain-lain. Sering kali lewat jejaring sosial itulah yang acap kali jadi tempat ‘curhat’ karena cenderung lebih mudah menyampaikannya dan lebih bebas dibandingkan di dunia nyata. Misalnya saja saat sedang kesal dengan orang lain, langsung membuat status atau tweet yang cukup kasar, sehingga dapat menyinggung perasaan orang lain. Inilah yang disebut dengan cyber bullying, yaitu menindas atau ditindas orang lewat internet, yang dapat meresahkan korban. Bukannya menambah teman, kita jadi punya musuh di twitter atau jejaring sosial lain.
“Menurut saya, biasanya kalau ada orang yang memiliki masalah tidak punya tempat untuk menuangkannya, ujung-ujungnya pasti ke dunia maya. Karena mungkin bagi sebagian orang dengan curhat di dunia maya bisa menghilangkan sedikit bebannya, jadi itu salah satu pilihan mereka kalau memang mereka tidak punya teman curhat atau teman untuk menyampaikannya,” ujar Ni Kadek Ary Putri Sanjiwani saat ditanya mengenai pendapatnya soal cyber bullying. Gadis yang saat ini menjabat sebagai ketua OSIS ini mengakui bahwa dirinya pernah menjadi korban serta pelaku cyber bullying. “Saya pernah disindir secara terang-terangan, tapi possitive thinking aja, mungkin salah satu faktor dia menyindir saya adalah iri. Yang kedua, saya juga pernah melakukannya karena saat itu saya benar-benar emosi, dan tidak tahu harus ngomong ke siapa, jadi saya menuangkannya ke dunia maya, hanya sebatas menceritakan, bukan nge-frontal ngomongin orang.”
Sementara itu, contoh-contoh cyber bullying yang sering terjadi antara lain meledek atau membicarakan orang tanpa sepengetahuannya di dunia maya, twitwar atau ‘perang’ dengan sesama pengguna twitter, dan mengumbar rahasia orang lain. “Banyak pasangan yang baru putus sedang galau lalu tak segan-segan membuat tweet kasar sehingga dapat menyinggung perasaan mantan ataupun orang lain,” ungkap Meilinda Kurniawati, siswi kelas IXE. Menurutnya, hal-hal tersebut bisa memengaruhi kehidupan seseorang, karena cyber bullying cenderung menyinggung perasaan psikologis korbannya. Dari yang tidak suka, jadi makin benci dengan orang tersebut, sampai saling tak bicara satu sama lain hanya gara-gara ucapan di twitter maupun jejaring sosial lainnya.
Berbagai hal dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya cyber bullying. “Saling pengertian antar pengguna jejaring sosial, jangan mudah tersinggung, karena siapa tahu tweet atau status yang dibuat itu bukan dimaksudkan untuk kita. Selain itu kita juga harus memilih dan memilah mana yang seharusnya kita share, mana yang seharusnya kita simpan untuk kepentingan sendiri. Yang penting tergantung diri kita sendiri sih, menanggapi jejaring sosialnya seperti apa agar tak terjadi cyber bullying itu,” tambahnya dengan mantap.
Sementara menurut Prabhanika R. Dharmeswari saat ditemui di SMPN 3 Denpasar (30/1), “Dengan tidak menanggapi lawan, dan tidak mudah terpancing emosi, kita dapat meredakan cyber bullying yang sudah terjadi.” Siswi kelas VIIF ini berpesan agar para remaja tetap mengontrol diri dalam pergaulan agar hal semacam itu tidak terulang. (nbl)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

^^

Things That Make Me Happy♡

TAYVIN ENDED