Terjebak di Zaman Modern (opini)
Hidup
di jaman serba modern memang membuat kita terlena.
Enggak hanya dari segi teknologi, tapi juga dari pola pikir kita. Percaya atau
enggak, kadang kita merasa manja pada suatu hal yang sebenernya kita masih
mampu melakukannya. Misalnya untuk mengambil gelas di meja belajar yang
jaraknya deket banget aja masih minta tolong diambilin sama adik. Iya, pikiran
kita juga ikut terkontrol di jaman modern.
Sekarang
ini saya juga merasakannya. Saya seperti terjerat
dalam ke-modernisasi-an yang tak ada habisnya, apalagi saya sudah masuk di usia
remaja, masa-masa labil yang kadang diselingi dengan budaya alay. Misalnya gini, temen-temen saya
sudah pada punya gadget baru yang
harganya (sudah pasti) nggak murah. Sementara saya? Cuman hp butut yang
harganya enggak sampai harga sebuah BlackBerry.
Yah, saya sih bersyukur aja. Tapi adakalanya saya merasa minder, dan ada
perasaan ingin sama dengan mereka. Ingin menenteng iPhone 5, atau yang lain.
Sementara
ayah saya bilang, “Memangnya apa sih
manfaatnya barang-barang itu?Kalau cuman untuk gengsi-gengsian ya nggak usah.
Emang beli barang begituan nggak pake duit? Kamu pikir cari duit itu gampang,
hah?” Oke. Karena saya tau ayah saya pasti bakal bilang begitu kalau saya
minta ayah buat beli salah-satu-di-antara-barang-canggih itu, makanya saya
lebih baik diam dan enggak banyak bacot
lagi.
Memang
sih, berdasarkan hasil pengamatan saya, temen-temen beli barang canggih dengan
alasan biar up-to-date, biar enggak ketinggalan jaman, atau biar enggak
dibilang cupu. Tapi sebagai remaja yang mentalnya juga ikutan up-to-date, kadang saya juga merasa
seperti itu.
Oke, kita beralih ke masalah lain. Well, nggak munafik, ya, kalau kadang
pikiran kita sama ortu itu berbeda. Misalnya kalau kita pengen ngelanjutin ke
sekolah A, ortu malah milih sekolah B. Yah kalau kita orangnya pasrah-pasrah
aja sih enak. Tapi kan gak mungkin kita selalu ikut pilihan mereka. Ada saatnya
kita mesti bilang apa yang kita inginkan, ada saatnya kita ungkapkan pendapat
kita. Tapi beneran, deh, itu nggak gampang. Apalagi kalau ortu kita berpikir
bahwa apa yang kita ungkapkan itu nmemberi kesan kalau kita anak yang lagi berontak. Jadi, ortu nggak akan mau
kalah dengan pendapat kita. Padahal kan maksud kita enggak begitu. Kita cuma mau
ngeluarin pendapat, tapi kadang mereka nggak mau mengerti. Kalau kita diam aja,
dikiranya kita bego, dikiranya enggak
tau apa-apa. Ngenes banget, ya. Tapi itulah hidup kita, dan kita memang harus
selalu menjalaninya. Always be confident with yourself, sure you can do, guys
(:
Komentar
Posting Komentar