Ketinggalan Pesawat dan Bertemu Mbak Siti

Rabu, 11 Juli 2018
Selepas subuh gua terjaga. Rapikan kamar, lalu mandi. Harus cepet soalnya boarding ke Bali jam 07.20. Gua udah siap pesan Grab. Sialnya karena cepet-cepet, kunci kamar yang harusnya ditinggal di tempat satpam malah kebawa. Untung aja belum jauh, jadi puter balik lagi hehe.

Si bapak supir lama banget nyetirnya. Di belakang, gua udah mulai keringet dingin. Mana agak padet pula dari jalan yang deketnya perimeter mau ke arah tol itu.

Oke, gua sampai jam 06.40. Risky banget, sih. Tapi entah kenapa gua B aja enggak terlalu panik gimana gitu. Dan jengjeng, ternyata semua antrean untuk maskapai singa penuh. Bener-bener rata semua pada antre. Gua mulai panik. Dan mbak-mbak loketnya lama pisan enggak ngerti lagi.

Ah, yaudahlah gua pasrah pas dapet giliran. Mbaknya bilang sudah enggak bisa naik. Gua disuruh ke loket 21, loket khusus check-in penumpang tanpa bagasi. Nah, gua ke sana tuh dengan koper gua.

Mbak-mbak yang jaga langsung sinis gitu astaghfirullah. "Di sini khusus tanpa bagasi mbak, antre di sebelah," katanya setengah teriak. "Saya mau nanya boleh nggak mbak?" gua gituin. Terus tangan gua gemeter sampai pas gua mau kasih liat e-ticket di hp, gua malah enggak sengaja jatuhin itu hp ke meja doi. Semua orang ngeliatin. Kata si mbak, sebenernya masih bisa masuk pesawat tapi kalau enggak bawa bagasi. Sedangkan koper gua - meskipun ringan - tapi gede banget jadi enggak boleh.

Gua dioper ke customer service untuk minta refund. Omg, ternyata refundnya hanya 10% dan gua langsung pengen nangis. Duit hangus 90%nya. Haduh gimana bilang ke nyokap nih, mana rekening gua juga zonk. Dengan perasaan yang sungguh bersalah, gua jadinya beli tiket lagi untuk penerbangan lebih sore. Karena semakin sore semakin malam maka semakin murah. Yah, tapi namanya juga beli tiket di hari-H, harganya bikin gua cenat cenut.

Yaudin, gua akhirnya menggelandang dari jam 7an itu sampai jam setengah 4 sore.

---

Awalnya gua bingung mau kemana, soalnya gua nunggu waktu untuk check-in. Mau balik ke Serpong, tapi sayang duit. Gua pun memilih tinggal di deket loket check-in. Ada banyak kursi kosong untungnya. Waktu itu gua duduk di ujung kiri dan di paling kanan ada mbak-mbak lagi pegang hp. Gua teruskan makan roti sisa sarapan.

"Mbak mau kemana?"
Butuh sekian detik biar gua sadar si mbak-mbak di sebelah ini manggil gua.

"Ke Denpasar."
Hening. "Mbak ke mana?"

"Saya mau ke Malaysia. Tapi dari Batam."

Oke, maaf gua agak modif sedikit ya percakapannya, karena dia pakai Bahasa Melayu aslinya, dan gua inget poin-poinnya saja.

"Mmm... mbaknya TKI?" tanya gua tanya bermaksud apapun. Cuma ingin tahu saja.

"Iya...Dari tadi saya perhatiin mbaknya waktu makan... kok kayak Nissa (Sabyan)..."

Mungkin karena gua pakai pashmina yang mirip Nissa kali, ya. Dan hoodie juga yang khas Nissa banget.

"Saya foto Mbak, ya." pinta si mbak.

"Buat apa ya?" Gua takut nanti dia culik gua atau gimana. Tapi firasat gua bilang dia orang baik. Akhirnya gua iyakan.

Setelah itu percakapan kami mengalir begitu saja.
 ---
Namanya Siti. Sejak usia 16 dia merantau dari daerah Jawa Tengah (kalau enggak salah dari Brebes. Atau dari mana ya? Seinget gua enggak jauh dari Semarang) ke Malaysia karena ajakan pamannya yang punya agen TKI. Sudah sepuluh tahun lamanya dia bekerja sebagai buruh pabrik emas.

Tubuhnya kurus mungil dengan rambut lurus dan kacamata tebal. Sebuah koper besar nangkring di depannya. Mbak Siti sudah di bandara Soekarno Hatta dari jam 1 dini hari padahal penerbangan jam 1 siang. Dia ikut pamannya yang sekalian mengantar rombongan TKI Hongkong. Dulu Mbak Siti masih bagian dari agen pamannya. Tapi beberapa tahun belakangan ini dia pindah ke agen lain yang kantornya di Batam.

Bekerja di tempat yang sama selama satu dekade enggak bikin ia mau pindah ke tempat lain atau ke negara lain.

"Keluarga sudah minta 'ayo pindah aja. kok kamu betah di sana terus' tapi ngapain juga. Saya sudah nyaman dikasi ini itu (dia nunjuk HP yang dipegangnya). Coba kalau saya minta pindah dari dulu, enggak bisa saya pegang ini," tuturnya. HP itu dia dapat dari atasannya karena sudah 'setia' bekerja di sana.

Kalau dibandingkan, katanya, memang lebih enak bekerja di Hongkong. Tapi tergantung tempat kerja masing-masing. Di perusahaan, Mbak Siti tinggal di mes pekerja yang masih satu gedung dengan pabrik. Jam kerjanya luar biasa bikin capek. Kadang kalau banyak kerjaan, dari pagi sampai pagi lagi dengan tidur secukupnya. Kalau pekerjaannya sudah selesai, kadang ada temannya yang minta bantuan sehingga nambah jam kerja Mbak Siti.

Diam-diam ia sering menangis kalau sudah tak tahan dengan lelah.

Ia bukan satu-satunya pekerja asal Indonesia. Ada sekitar 13 orang lainnya yang juga berasal dari Jawa. Sisanya dari Nepal dan China. Mayoritas pegawai adalah perempuan. Kata Mbak Siti, kalau ngomong sama mereka pakai bahasa isyarat dan bahasa Melayu sedikit-sedikit. Ia pengen belajar bahasa lain seperti Inggris atau Kanton tapi susah banget.

Enggak sebebas kita yang bisa pegang HP 24/7, ia cuma dibolehin pegang HP di hari-hari tertentu saja. Gua lupa kapan-kapannya, tapi sangat terbatas. Bahkan kalau nelpon pun hanya boleh ke keluarga saja. Bayangin, seumuran dia yang sudah punya pacar atau suami pasti susah banget untuk komunikasi, kan. Internet enggak boleh. Bahkan atasan (majikan) Mbak Siti ngecek semua isi HP, dari kontak-kontaknya sampai chatnya. Sedih ga sih?

Pun untuk urusan gaji dan belanja, semua dalam wewenang majikan. Gaji Mbak enggak dipegang sendiri. Dan setiap mau belanja, Mbak harus bener-bener kasih tau apa aja yang akan dibeli. Uang yang dikasih akan sesuai dengan itu. Perginya juga dikontrol banget. Tapi ada benarnya. Si majikan pegang uang Mbak Siti supaya enggak disalahgunakan. Terutama kalau misalnya Mbak Siti kirim ke keluarga. Belum tentu uang itu dipakai untuk tujuan baik. Jadi ia kumpulkan sampai kontraknya habis. Hanya di hari tertentu seperti lebaran Mbak Siti bisa kirim uang ke keluarga.

Obrolan kami berlanjut soal asmara.

"Mbak pasti sudah punya pacar, ya," godanya. Zonk.

"Pasti pacar saya kaget kalau tau saya ketemu Mbak," katanya.
"Kok? Kenapa?"

"Iya, kalau liat Mbak mirip Nissa Sabyan pasti dia kaget hehe." Kemudian dia bercerita soal pacarnya.

Pacar Mbak Siti lulusan pesantren. Rambutnya panjang karena doi pengikut aliran tertentu. Mbak Siti pernah nyuruh doinya potong rambut tapi kata doi ntar bakal sakit atau kena sesuatu kalau rambutnya dipotong. Mereka tetanggaan di kampung. Sudah bertahun-tahun mereka pacaran dan selalu LDR. Yang sedih adalah... fakta yang gua bilang di atas: komunikasi terbatas. Tapi kerennya, mereka tetap bersama, bahkan sudah menuju pernikahan. Cuma kendalanya, kontrak kerja Mbak Siti yang harus dihabiskan (+/-) 5 tahun. Pihak keluarga si doi minta Mbak Siti lebih cepat selesaikan kerja supaya lekas menikah, tapi majikan enggak bisa gitu aja mau mutusin kontrak.

Selama pacaran, si doi selalu ngingetin Mbak Siti agar rajin ibadah; pokoknya dia selalu mengarahkan ke arah yang baik. Mbak Siti enggak bisa macem-macem walaupun jauh dari doi. Sebab doi bisa tau Mbak Siti ngapain aja. Caranya? Katanya sih doi punya 'ilmu' buat lihat.

Enggak terasa, sudah hampir jam 11. Mbak Siti melongok ke konter check in, bersiap-siap kalau check-in untuk penerbangannya udah dibuka. Kami kemudian sibuk dengan gadget masing-masing. Di depan kami rombongan KKN sedang lesehan menunggu sesuatu. Sampai rombongan itu pergi, kami masih di kursi yang sama. Mbak Siti lalu kasih gua buah salak, tapi sayangnya roti gua udah habis jadi enggak ada yang bisa gua bagi.

Gua sudah bertekad untuk ambil foto bareng sama Mbak Siti, tapi dia bener-bener malu. Enggak pede untuk foto. Padahal dia keren banget! Siapa yang hari gini bisa bertahan kerja dengan tekanan seperti itu dari usia belasan, di luar negeri pula? Salut banget!

hehe <3

Gua juga tukeran nomor WA, berharap suatu saat bisa silaturahmi lagi. Menyenangkan sekali rasanya bisa ketemu orang sekuat dan sebaik dia. Bayangin, dia hanya boleh kembali ke Indonesia setiap lima tahun sekali dengan waktu yang sangat singkat. Hanya sekitar seminggu. Mungkin ini hikmah gua ditinggal pesawat ya, hehehe, gua bangga dan beruntung bisa dengar cerita Mbak Siti. Enggak setiap hari dia bisa cerita segalanya ke orang lain. Lelahnya, kerja kerasnya. Semua buat masa depannya sendiri.

"Saya pengen banget bisa beli rumah sendiri," kata Mbak Siti. Dia juga bilang lagi ngumpulin modal untuk menikah. Masya Allah <3

Setelah Mbak Siti check in, dia kembali nyamperin gua, dan di situlah kali terakhir kita bertemu. Sampai gua mendarat di Denpasar pun (dengan delay yang luar biasa), dia masih kontak gua. Gua baru sampai, dia sudah mau nyebrang ke Malaysia.
---
Bener-bener enggak nyangka bisa dengar cerita sedalam itu dari stranger. Kita mungkin melihat orang sekilas di bandara, ya, dia mau pergi ke suatu tempat. Tapi di balik tujuan pulang atau perginya, kita enggak pernah tahu pasti. Sampai kita komunikasi sama dia. Kita enggak pernah tahu cerita apa yang dia punya hari itu - entah cerita senang atau sedih - enggak selalu ditampakkan nyata oleh semua orang. Tapi akan ketahuan kalau kita mau mengenal orang itu. Begitulah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

^^

Things That Make Me Happy♡

TAYVIN ENDED