Babak #15 - Usia 20
| Suatu keindahan subuh. |
Sudah 8 bulan jadi manusia berusia 20 tahun. Waktu berganti, masa depan menanti, jangan cepat-cepat dimasukkan ke hati. Apasih. Mari kita bedah apa-apa saja yang terjadi ketika menapaki usia dua-dasawarsa.
Sebetulnya aku juga kurang paham apa yang tiba-tiba berubah waktu baru genap 20.
Ternyata, enggak ada.
Hehe.
Tapi,
Sambil berjalan, usia 20 ternyata sedikit banyak mengubah kita. Yang biasanya tanpa kita sadari. Ada banyak hal yang kita pelajari. Lebih dari belajar membuat penelitian kuantitatif dan statistika -- yang memabukkan -- ada hal lain, seperti belajar membuat keputusan sendiri, belajar memecahkan masalah, dan yang paling penting: belajar mengalahkan ego. Ini yang paling susah.
Satu semester kemarin aku menyadari aku enggak banyak berbeda dari usia sebelumnya. Masih childish. Sedikit-sedikit ngambek. Kemudian aku berpikir, ini harus dialihkan. Akhirnya aku menulis jurnal sebelum tidur yang isinya sambat, unek-unek, dan curhatan random lainnya. Alhamdulillah manjur.
Ada banyak kesempatan baik yang Allah kasih di usia ini. Hampir semuanya di luar garis nyamanku. Aku pikir, ini enggak akan mudah, aku mungkin diremehkan orang lain. Tapi aku berusaha enggak peduli (dan ternyata sulit sekali duh). Pikiranku cuma satu: aku harus coba banyak hal yang masih satu garis dengan tujuanku nanti, mau gagal mau sukses, yang penting Bismillah.
Usia 20, memang, lebih membuatku capek dari usia sebelumnya. Membuatku berpikir terus-terusan soal prioritas. Tentang tugas, Ultimagz, pertemanan, dan keluarga. Pada akhirnya satu-dua orang lama yang dulu begitu seringnya berbagi basa-basi, seakan terkena seleksi alam. Rasa dekatnya berbeda. Chat jadi agak hambar. Tapi kalau bertemu langsung (yang biasanya terjadi hanya sekali dalam beberapa bulan) semuanya biasa saja. Saat itu aku sadar, kita enggak bisa benar-benar mempertahankan orang yang menempatkan kita di prioritas nomor sekian. Berlaku sebaliknya.
Pikiran juga melayang jauh tentang masa depan yang aku rancang sejak usia sekolah dulu. Masa depan itu sudah tinggal beberapa langkah dari sini. Itu artinya aku enggak bisa benar-benar santai. Ada pepatah yang bilang, apa yang kau tanam, itu yang kau tuai. Kalau menyiapkan dari sekarang, nanti tinggal santuy. Kalau malas-malasan, yang kita sebut masa depan itu bakal makin jauh dari yang kita perkirakan.
Soal cinta, sejak masuk usia 20, aku enggak mau memaksakan. Aku takut kalau yang selama ini aku cari hanyalah obsesi atau hanya pelipur sepi. Rasa trauma dari kisah masa lalu seperti membentengi aku untuk membuka diri. Maka, sekarang lebih banyak pasrah aja selagi berbenah diri dan hati. Lah, kok jadi berima gini?
20 mungkin cuma angka. Tapi enggak akan jadi cuma kalau berusaha menata. Weleh, sok bijak sekali saya~
"Saat itu aku sadar, kita enggak bisa benar-benar mempertahankan orang yang menempatkan kita di prioritas nomor sekian. Berlaku sebaliknya."
BalasHapusini yg hal sya lakuin ketika berada di posisi terpuruk. tapi perlakuan nya agak berbeda, agak ga setuju soal pribadi yg ditempat2kan berdasarkan prioritas. menurut sya pribadi, terserah mau org nempatin sya di nomor berapa, tapi jgn sampai sya melakukan apa yg dia lakukan juga. krna yg sya yakinin, diposisikan itu ga baik.
menarik
Hapus