Babak #16 - Menjadi Posesif
"Aq gak suka kamu jalan sama dia! Kamu ngapain sih bolak-balik telepon makhluk hidup itu? Pokoknya kamu cuma boleh sama aq!"Hayo, siapa yang pernah cemburu? Aku juga pernah dulu waktu aku punya pacar (yha). Kadang ada hal kecil yang bikin kita jadi senewen kalau doi bersama cewek lain. Padahal itu cuma untuk urusan kerja atau terlibat hal profesional lain. Yang bahaya, kalau cemburu-tanda-sayang itu dipakai untuk membenarkan rasa posesif. HmMmm.
Dua orang yang terlibat hubungan pasti punya dong rasa memiliki satu sama lain. Enggak cuma kenyamanan, tapi juga komitmen. Dua-duanya juga saling jaga. Yang jadi masalah, apakah menjaga itu sebagai rasa protektif atau posesif?
Di KBBI, posesif artinya bersifat menjadi pemilik dan disamaartikan dengan rasa cemburu. Kalau cemburunya masih wajar, ya enggak apa-apa. Katanya sih itu bukti cinta. Tapipipi kok doi udah mulai masuk ke kehidupan pribadi dan mengutak-atik hidupmu? Yakin, cinta?
Ada banyak cerita dari temen-temenku yang diposesifin sama pacarnya. Dan semuanya bukan hal bagus. Mereka bilang menerima perlakuan kasar, ancaman, sampai meneror orang-orang terdekat. Aku enggak bisa enggak marah ketika dengar mereka dijambak, dikata anjynk, dilempar helm, dan dicakar. Bukan hanya fisik, tapi juga menerima kekerasan verbal.
Aku pernah menyaksikan posesif di hubungan orang lain. Waktu itu aku, yang ingin follow si cowok MURNI atas dasar teman, tiba-tiba di-unfollow pacarnya pakai akun si cowok karena enggak suka si cowok berteman dengan mantan-mantannya. Ternyata, temenku (yang cewek) juga dapat pengalaman yang sama. Si cewek katanya juga mengekang cowok bermain dengan sahabatnya yang cewek; kami sebagai teman lamanya khawatir bagaimana hubungan mereka berjalan.
Seperti artikelnya kompas.com, ciri-ciri pacar posesif itu cemburu berlebihan sampai melarang pacar bersosialisasi dengan orang sekitar/orang terdekatnya. Selain itu, pelaku juga suka mengontrol pasangan, dan emosi yang berlebihan.
Menurutku, rasa protektif itu perlu. Kita mungkin khawatir kalau pacar pulang malam, maka kita larang dia pulang terlalu larut. Atau kita temani dia menemui klien karena tempatnya sangat jauh. Atau kita berpesan pada doi agar berhati-hati dengan A atau B karena tidak baik perilakunya bagi doi.
Namun bukan berarti kita bisa membatasi hal yang sifatnya pribadi. Setiap orang punya otonomi atas dirinya sendiri, punya kehidupan sosialnya sendiri. Sebagai orang asing, kita enggak berhak mengintervensinya. Kita bisa bilang enggak suka atau marah, tapi bukan mengatur. Bukan mengontrol.
Bayangkan kalau pacar dilarang ketemu A atau B dengan dalih 'aku enggak suka', kemudian setelah putus dia enggak punya siapa-siapa untuk bersosial. Gila, kan? Apalagi kalau melarang hal yang sebenarnya konyol karena hanya sebatas kerjaan. Tindakan yang sebenarnya sudah dilakukan secara profesional kemudian jadi alat untuk cemburu yang enggak wajar (misal si pacar dilarang kerja sekelompok dengan cowok bernama A padahal sudah tahu batasan masing-masing). Lah, kalau pacarnya dipecat gimana boi?
Aku menduga penyebab dari protektif yang enggak wajar ini adalah rasa tidak percaya diri. Si pelaku enggak pede dengan dirinya, merasa takut, terancam, lalu menyalahkan semua orang atas ketidakberesan hubungannya. Dia enggak bisa melihat fakta bahwa dialah yang harus introspeksi terlebih dahulu. Bukannya menyalahkan yang lain, termasuk pacar dan perilaku pacar. Dia enggak pede karena dalam hati sebenarnya menganggap semua orang -- yang menurutnya lebih baik dari dia -- adalah ancaman. Tapi dia enggak sadar.
Padahal kalau saja dia bisa berkaca dan mengalahkan egonya, dia enggak perlu bersikap terlalu berlebihan. Ayo, coba komunikasikan. Supaya enggak ada yang dikekang. Karena protektif dan posesif itu bedanya tipis tapi bisa jadi sadis.
Komentar
Posting Komentar