Babak #17 - Sabtuku Berfaedah: Diskusi Seru tentang Media dan Disabilitas
| Orang-orang Keren |
Akhirnya, Sabtuku berfaedah. Sore tadi aku hadir di sebuah diskusi yang diadakan oleh Remotivi & Jakarta Barrier Free Tourism. Senang sekali karena temanya bagus dan rangkaian acaranya keren. Sebelum diskusi, ada acara cobain fasilitas umum bersama temen-temen disabilitas. Sungguh menariq~
Sayangnya aku kesiangan berangkat dari Rawa Buntu. Harusnya setengah dua sudah di Tanah Abang -- itu starting pointnya -- tapi jam segitu baru otw ke Rawa Buntu. Yasudah, aku sama Odri menyusul rombongan di Stasiun Palmerah. Wah, enggak lama, ketemu sama mereka dong. Kita mikir, ini benar enggak, ya, rombongan Remotivi? Lalu tiba-tiba ada Mas Roy, dosenku yang juga Direktur Eksekutif Remotivi, manggil dan ajak gabung ke rombongan.
"Weh, yok! Berdua aja?" Tanyanya. Aku sama Odri terus ikutan jalan deh.
Ternyata enggak mudah bagi pengguna kursi roda untuk naik-turun KRL. Sebelum keluar stasiun, kami menunggu temen-temen yang pakai kursi roda terlebih dahulu. Mereka naik-turun peron dengan lift. Kami disuruh jalan duluan sampai di seberang. Enggak lama, mereka sampai juga dibantu dengan petugas Dishub. Kita misah. Ada yang lurus lewat pasar, ada yang lewat jalan agak jauh. Memasuki Gedung Tempo, kami langsung ke coworking space yang terletak di lantai 8. Eh, ketemu Anin (temen Ultimagz) dan Indah (junior aku di kelas NGD). Kirain bakal hilang di tengah-tengah orang gak dikenal.
Diskusi dimulai agak telat, sekitar pukul setengah empat. Aku, Odri, dan Anin duduk di paling belakang. Pembicaranya ada tiga: Cheta Nilawaty (wartawan Tempo dan penyandang disabilitas netra), Rade Bunga (Koordinator Jakarta Barrier Free Tourism), dan dosenku tadi.
Awalnya dibuka dengan kesan temen-temen disabilitas yang tadi menggunakan transportasi umum. Mereka bilang kalau naik-turun lift itu meribetkan, apalagi kalau lift rusak dan harus menggunakan eskalator (duh, enggak kebayang bahayanya gimana). Tapi terbantu dengan garis penuntun dan pengeras suara. Mereka juga bilang selama ini layanan dari KRL itu memadai dari segi petugasnya yang sigap, namun sayangnya belum didukung dengan fasilitas yang layak. Aku langsung terbayang bagaimana mereka harus ekstra hati-hati kalau naik kereta. Kalau enggak awas, celah antara peron dengan kereta (yang ampun dah, udah jauh, enggak rata pula) itu bisa membahayakan mereka. Belum lagi orang-orang rese yang memilih pura-pura tidur daripada kasi tempatnya untuk para disabilitas.
Insight yang keren dan segar datang dari Mas Roy. Dia bilang kalau sebagian besar media fokus pada representasi disabilitas atau inspirational porn melulu. Jarang sekali menggambarkan mereka sebagai orang yang normal yang bisa berprestasi dan bisa biasa saja seperti kita. Belum lagi cara media membawa disabilitas ke bentuk film, sinetron, maupun hiburan lainnya yang sering jadi bahan tertawaan, atau kasarnya, derajatnya dibedakan dari nondisabilitas. Fasilitas yang bobrok di Indonesia juga bikin akses mereka terbatas. Maka, jarang kita menjumpai orang disabilitas di tempat-tempat umum.
Jakarta Barrier Free Tourism, yang didirikan oleh orang-orang disabilitas, lantang bersuara soal akses mereka. Sayang, aku enggak terlalu menyimak betul pembicaraannya karena kurang terdengar di belakang (selain itu ada bayi yang rewel sebagai distraksinya). Yang juga mengesankan adalah cerita wartawan Tempo Cheta Nilawaty yang menjadi tuna netra sejak 2016. Ia awalnya merasa bingung bagaimana cara melakukan kegiatan sehari-hari sebagai disabilitas. Dengan bantuan komunitas, ia belajar dan bisa beradaptasi. Aku juga baru tau kalau Tempo bahkan sudah mempunyai kanal yang khusus tentang temen-temen difabel, loh.
Diskusi jadi berwarna karena aku bisa ketemu dan berinteraksi dengan orang-orang yang jarang aku temui. Maaf, mungkin karena akses yang buruk, jadinya jarang ada di sekitarku. Aku juga terpana lihat penerjemah bahasa isyarat bisa secepat itu dan sehalus itu menjelaskan ke audiens. Kalau selama ini hanya lihat penerjemah di pojok siaran televisi, sekarang berkali-kali lipat kagumnya. Asli, keren!
Pokoknya diskusi hari ini, meskipun melelahkan, tapi seru dan sangat berkesan~ Terima kasih Remotivi dan Jakarta Barrier Free Tourism, enggak cuma mengedukasi tapi juga memberi pengalaman yang enggak bisa dibayar. Yuhu~
Komentar
Posting Komentar