Babak #2 - Selera Musik
| Aku dan Playlist Absurd-ku |
Terkadang, aku heran sama seleraku (bukan, bukannya aku lebih pilih Mi Sedap daripada Indomie; keduanya aku suka).
Soalnya aneh.
Suatu hari aku tes kepribadian online versi Myer-Briggs. Setelah jawab puluhan soal, hasilnya aku punya tipe INFJ. Dari sekian banyak deskripsi, yang aku tangkap adalah INFJ itu weird. Enggak heran temen deketku bilang aku freak ahahaha tapi bener ahahahahhahahahah.
Aku seperti ada di tengah-tengah dua kutub. Kontradiksi.
Kadang aku bisa pakai baju setomboi itu - hoodie dan sneakers - tapi di saat yang bersamaan aku pakai blush on dan semangat ke Guardian buat cari diskonan lipstik. Ada hari-hari aku pingin pakai rok dan atasan pink ke kampus dan berbarengan dengan itu lagu-lagu My Chemical Romance jadi mood-nya. Kadang aku berusaha ngelucu dan berhasil, tapi sedetik kemudian usahanya jadi jayus. Kadang kalau ke Matahari, aku selalu suka lihat Hot Wheels (dan menyadari harganya naik terus dari 17ribu sampai sekarang 20ribuan) tapi juga belok ke tempat Barbie (apalagi yang warna rambutnya bisa diganti-ganti).
Yang paling aneh dari keanehan seleraku adalah musik.
Dari SD kelas enam aku suka sama lagu Taylor Swift. Dulu, nyaris setiap hari ada aja waktu untuk denger via Winamp sampai ketiduran. Bela-belain beli es krim Cornetto supaya dapat kode yang bisa dituker jadi cenderamata Taylor atau tiket konser.
Seleraku berbelok ke lagu-lagu tahun 90an waktu SMP. Enggak berubah, masih, masih suka Taylor. Tapi ada banyak hari di mana aku bener-bener suka denger Backstreet Boys, Westlife, Michael Learns To Rock, dan Nsync. Ibaratnya kalau di kpop, aku sudah punya bias dari grup mereka. Nick Carter dan Shane Filan, dua nama yang sering aku tulis namanya di punggung tangan kalau sedang gabut di kelas. Sampai sepupuku, yang satu sekolah denganku dan juga fans Westlife garis keras, meledekku karena tulisan idola di punggung tanganku salah.
"Hahaha, SHANE VILLAN, pakai V dabel L!" serunya. Satu hal bodohku yang bikin aku sadar: yang penting suka dan bangga walaupun enggak tau nama aslinya.
SMP akhir, aku mulai dengar Three Doors Down dan merembet ke band beraliran serupa: alternative, rock, pop/rock, dan kombinasinya. Aku kenal lagu-lagu Thirty Seconds To Mars, Boys Like Girls (terutama setelah duet sama Taylor Swift), Simple Plan, Avenged Sevenfold, SafetySuit, dan berkembang ke Linkin Park, Paramore, Fall Out Boy, My Chemical Romance, dsb dsb.
Biasanya kalau kesal sama orang, aku akan setel lagu-lagu mereka. Pelampiasan. Tapi kalau gabut juga suka dengerin.
Hal yang bertolak belakang terjadi waktu aku SMA. Aku memang tau dan lumayan suka kpop (ya siapa sih yang melewatkan SNSD saat "Gee" dan "Genie" diputar kencang di kelas?), tapi kemudian makin intens.
Aku inget sekali, aku di mobil dan waktu itu Phoenix Radio puter lagu yang catchy banget dan berbahasa Korea, tapi ada sedikit bahasa Inggrisnya. Saking enaknya, aku jadi pingin cari di Google. Sepanjang lagu, yang aku tangkep cuma "I-i-i-i want you baby and i-i-i need you" jadi cuma itu yang aku ketik. Wah, ada dong ternyata. SEVENTEEN - Q&A FEAT. AILEE. Langsung aku unduh!
Begitulah, dan aku akhirnya suka sekali dengan kpop. Berbarengan dengan itu, aku dicekoki dengan anime shoujo dan komik Detektif Conan oleh temen-temen dan jadinya suka OST-OSTnya. Aku juga sempat punya cita-cita mau jadi anggota JKT48 hahaha, sampai aku gemar denger lagu-lagu AKB48.
Waktu kuliah, seleraku masih absurd. Aku jadi suka lagu-lagu indie, terutama yang ada di playlist Sexiest K-Grooves di Spotify, Asli, enak banget. Lagunya para penikmat senja, seperti dari Fourtwnty, Barasuara, Fiersa Besari, Lany, Lauv, Adhitya Sofyan, Payung Teduh, Reality Club, Danilla, Ardhito Pramono, dan banyak lagi, tiba-tiba bikin aku jatuh cinta dengan sederhana. Cie.
Di saat yang bersamaan, kadang aku jadi ingin puter lagu dangdut, seperti Egois dari Lesti, jebolan Dangdut Academy. Atau tiba-tiba pingin lagunya She atau Samsons. Dari dengar Martin Garrix tiba-tiba ke melownya Kerispatih. Dari BTS ke Shawn Mendes (iya, aku lagi suka banget sama dia).
Sekarang aku bingung kalau ditanya "Kamu sukanya musik apa?" karena takut dikira rakus comot ini itu. Bingung juga mau ajak siapa kalau ada Fiersa Besari manggung karena temen segeng enggak akrab dengan lagunya.
Huhuhu.
Komentar
Posting Komentar