Babak #3 - Pinterest > Instagram

Aku dan Pins-ku

Hari gini siapa sih yang enggak pakai Instagram?
Aku sudah ada di Instagram dari SMA. Kira-kira tahun 2013, masih era alay. Aku penasaran, kira-kira anak-anak yang lahir tahun 2000an melewati masa alay enggak ya? Mungkin iya kali, ya buat yang lahir tahun 2000an awal. Tapi yang sekarang masih SD pasti bagus-bagus aja feedsnya hahaha.
Lupa, anak baru lahir aja sekarang sudah dibikinin akun oleh orang tuanya.

Semua suka main Instagram - ngestalk gebetan gampang, lihat produk kosmetik baru juga gampang, lihat aktivitas artis juga gampang, dan gampang-gampang lainnya. Setiap hari buka story atau feeds orang lain yang kita follow.

Terkadang ada satu titik di mana aku merasa lelah sekali setelah buka-buka fitur di Instagram. Yang biasanya sering kejadian adalah setelah swipe-swipe story orang bermenit-menit, kepalaku langsung pening. Mataku sakit. Oke, aku memang punya silinder dan minus (meskipun kecil), tapi ini rasanya seperti pingin muntah. Kemudian aku sadar, aku sudah terlalu banyak nerima informasi visual dari orang lain. Ada yang lagi liburan lah, curhat lah, mesra-mesraan lah, makan bareng temannya lah, nge-share meme lah, dan sebagainya.

Enggak munafik, aku juga sering unggah keseharianku di story dan enggak merasa salah atau bagaimana. Setelah liat punya orang lain, aku berpikir: orang yang share akan merasa biasa saja, tapi belum tentu followersnya merasa demikian.

Alhasil, aku mencoba pelan-pelan mengurangi waktuku di medsos itu demi enggak capek liat kehidupan orang lain. Aku beralih ke akun kedua yang isinya kebanyakan tentang artis/influencer, kpop, dan katalog fesyen. Entah mengapa di akun kedua, aku enggak merasa lelah liat unggahan orang-orang itu. Biasa aja.

Kesimpulan dari aku: capek terus-terusan liat konten yang enggak diinginkan, tapi terpaksa liat karena pemilik akunnya adalah teman sendiri.

Beberapa waktu yang lalu aku pingin banget cari cara padu padan fesyen ala ala gitu. Terus pingin cari banyak lockscreen yang estetik; pokoknya hanya ingin liat konten yang aku mau.

Aku beralih ke Pinterest. Bukan promosi, tapi pengalaman sendiri.

Belum lama di Pinterest, aku langsung nyaman. Karena di sana aku bisa sortir konten apa aja yang hanya ingin aku lihat di linimasa. Gambar-gambar itu bisa disimpan di folder yang bisa kita atur sendiri. Pokoknya mantap, lah.

Sekarang, waktu yang aku habiskan di Instagram sangat berkurang drastis. Rata-rata seminggunya kurang dari 1 jam. Hore~
Selain itu juga aku berusaha mengingatkan diri sendiri untuk enggak perlu buka story orang banyak-banyak. Kalau capek, langsung keluar. Sebelum makin insecure. Kalian juga harus coba~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

^^

Things That Make Me Happy♡

TAYVIN ENDED