Babak #4 - Independen
![]() |
| Foto: 1sigfridsson.com |
Pernah enggak saat kalian lagi duduk sendiri atau lagi jalan sendiri, ada orang yang tanya "Kok sendiri aja?"?
Sama, aku juga. Mungkin semua orang juga pernah dapat pertanyaan basa-basi yang sama. Ada yang nanggepinnya biasa aja dan ada juga yang baper.
Menurutku ada dua tipe orang di dunia ini:
1. Suka sendirian atau biasa aja kalau sendirian.
2. Enggak suka sendirian atau enggak biasa-biasa aja kalau sendirian.
Tipe yang pertama adalah mereka yang sendirian karena memang pingin sendiri aja (barangkali mereka introvert) atau teman-teman mereka kebetulan lagi enggak bisa nemenin. Aku termasuk di dalam tipe ini. Di kampus, jadwal kegiatan aku dan temen-temenku sering beda. Misalnya kuliah samaan selesai jam 2, setelah itu aku mesti ng-aslab, terus Caca ketemu sesama koor panitia, Audrie ketemu narasumber untuk Ultimagz, atau Alya yang pergi liputan untuk UNS. Kadang mereka bertiga sudah enggak ada kegiatan lagi lalu pulang dan aku gabut nunggu jam 5.
Jadi, kalau enggak main ke redaksi (karena kadang harus nugas di tempat yang enggak ramai), ya menepi sendirian ngetik di kantin/perpus/lesehan di gedung D. Buatku enggak masalah.
Sama seperti ketika harus belanja ke pusat perbelanjaan atau ke supermarket, biasanya aku sendirian. Bisa aja, sih, panggil temen. Tapi aku merasa mending sendirian daripada harus jalan sama orang yang aku enggak begitu dekat. Terus, kalau sendiri tuh lebih bebas. Mau lama di Guardian atau lama menatap sayuran, bukan masalah. Aku jadi enggak perlu khawatir soal "Duh maaf ya aku masih pingin lama di sini, kamu enggak apa-apa kan?" dan sebagainya. Walaupun, yah, kadang jengah juga jalan sendiri soalnya enggak ada yang ajak ngomong dan takut salah kostum atau salah melangkah (yha). Tapi banyak di luar sana yang 'terpaksa' sendirian karena, mungkin, temen-temennya menjauh. Jadi mau enggak mau harus sendiri. Enggak apa-apa. Sans.
Ada juga yang sebaliknya, kalau ke mana-mana lebih suka ramean. Menurutku tipe ini seru. Kalau jalan-jalan jadi selalu ada topik bahasan dan ngobrolnya asyik. Tapi bakal keki abis kalau lagi sendirian. Dan sebenarnya, pingin selalu ramean bukan berarti enggak mandiri. Mmm, belum tentu juga, sih.
Biasanya penganut tipe ini adalah golongan ekstrovert. Mereka yang ngecas dirinya dengan berinteraksi dengan orang lain. Jadi, kalau aku risih karena pingin sendiri dulu aja, mereka justru pingin ada orang lain yang jadi cas-annya.
Tapi dua tipe tadi bener-bener buatan aku, hasil observasi aja hehe. Sama sekali enggak paten.
Independen, yang artinya berdiri sendiri atau berjiwa bebas, menurutku selalu ada porsinya di masing-masing orang dengan takaran yang berbeda-beda. Tergantung dari lingkungan dan didikannya. Nah, tinggal kitanya saja, mau beneran ambil atau enggak. Kita memang makhluk individualis tapi juga makhluk sosial. Artinya enggak pernah benar-benar bisa berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain. Independen sebenarnya bukan persoalan milik introvert atau ekstrovert. Lebih dari itu, semua orang harus paham soal kapan dia harus bisa menangani suatu hal sendirian dan kapan dia perlukan bantuan orang lain.
Maksudnya, kalau ada hal yang emang bisa dilakukan sendiri, ya enggak perlu memaksa orang lain untuk terlibat. Yang penting enggak merugikan yang lain.
Pun ketika misalnya orang lagi pacaran, menurutku enggak perlu, lah, apa-apa dilakukan berdua. Apa-apa mesti tergantung doi. Apa-apa nunggu keputusan iya atau enggak dari doi. Capek woi.
Pacaran dengan jiwa independen artinya masing-masing yang pacaran kudu mengerti batasan persoalan yang bisa dihadapi sendiri dan yang mesti berdua. Toh kalau satu visi, mau misinya seperti apa ujungnya bakal di tempat yang sama, kan? (oke, aku mulai ngelantur)
Ya, pokoknya begitulah.

Komentar
Posting Komentar