Babak #24 - Adik
*akhirnya kembali menulis setelah pusing seminggu*
Seminggu yang lalu, di tanggal 23, adikku berulang tahun yang ke-17. Di sini aku akan cerita tentang dia. Hitung-hitung sebagai hadiah ulang tahunnya hehe.
Aku bertemu dengannya waktu usiaku 3,5 tahun. Dia lahir di bulan Februari dan nyaris melalui operasi sesar. Kata mama, waktu di dalam kandungan, kepala adikku enggak mau turun sampai akhirnya dia muter sendiri waktu usia kandungan sudah besar. Sewaktu lahir, dia punya banyak nama panggilan, yang paling kuingat adalah adik kabau. Sampai sekarang aku enggak tahu kenapa bisa begitu.
Adikku waktu bayi terlihat seperti cowok. Mukanya judes dan mirip ayah. Sewaktu balita, hobinya mengamuk. Dia akan menangis kencang atau menjadi bawel yang berujung pada: dia ngantuk lalu tidur sendiri. Kebiasaan ini terus ada hingga sekarang. Heran. Kalau sudah menggerutu begitu aku biasanya menggoda dia yang punya perut buncit dengan bilang "Ibu hamil!" (sebenarnya norak banget sih ini).
Semasa TK, dia punya banyak teman. Dia aktif ikut drum band dan menari. Gurunya juga menunjuk dia untuk baca puisi di acara sekolah. Padahal baru bisa baca.
Kami kemudian masuk di SD yang sama. Kerjaanku selalu sama: memalak adik ke kelasnya kalau uangku sudah habis. Bagusnya, dia enggak keberatan. Kami sama-sama suka ikut lomba di sekolah, tapi bedanya aku enggak pernah menang dan cuma jadi kolektor sertifikat peserta, kalau dia ikut lomba pasti ada aja menangnya. Enggak heran, sebab dia jauh lebih pede dan lebih rame alias ekstrovert dibanding aku.
Waktu dia SD, dia sudah akrab dengan laptop dan tablet. Dia suka sekali main game yang berakhir dengan minus pada matanya.
Dari kecil sampai sekarang, nyaris tidak ada satu haripun terlewatkan tanpa pertikaian kecil. Mumpung kami cuma berdua, jadi selalu ada saling tuduh kalau bikin kesalahan. Tapi marah-marah sama dia enggak bisa lama-lama. Tiba-tiba aja cair sendiri.
Karena cuma berdua juga, jadi bisa saling lempar tugas.
Mama: "Mbak, tolong belikan mama bawang merah di Bu Guntur."
Aku: "Dek beliin bawang"
Adik: "Kan kamu yang disuruh"
dan terus begitu.
Dia punya satu boneka monyet dari SD yang masih dibawa-bawa sampai sekarang. Dia bisa ngambek dan ngamuk kalau mau tidur enggak ada boneka itu. Padahal naudzubillah wangi bonekanya.
Dia seperti happy virus di keluarga. Kalau enggak ada dia ya sepi.
Dia kalau belajar enggak pernah bisa sambil duduk anteng. Dia bakal muterin kasur, dengerin lagu keras-keras, atau teriak-teriak gaje sampai PRnya selesai. Aku yang kewalahan.
Dia masih suka nonton acara anak-anak bahkan sampai dia SMP. Spongebob Squarepants dan Upin Ipin adalah kesukaannya.
Dia cupu karena nggak berani bawa motor hahaha :p
Tapi dia pinter sekali, terutama di bidang IPA-IPA-an. Dia juga pinter menari. Dia enggak segan mencoba hal baru - dan dia sudah buktikan - seperti di bidang debat bahasa Inggris. Padahal waktu kecil enggak pede kalau disuruh speaking.
Sekarang dia jauh sekali sekolahnya; satu hal yang bikin aku bangga. Dulu aku pingin masuk ke sekolah itu, tapi sungguh ragu. Adikku menjawab mimpiku itu. Lebih bangganya lagi, dia bisa lewati semua yang susah dan enggak ragu berprestasi. Uwu.
Dan teruntuk adik,
Seminggu yang lalu, di tanggal 23, adikku berulang tahun yang ke-17. Di sini aku akan cerita tentang dia. Hitung-hitung sebagai hadiah ulang tahunnya hehe.
Aku bertemu dengannya waktu usiaku 3,5 tahun. Dia lahir di bulan Februari dan nyaris melalui operasi sesar. Kata mama, waktu di dalam kandungan, kepala adikku enggak mau turun sampai akhirnya dia muter sendiri waktu usia kandungan sudah besar. Sewaktu lahir, dia punya banyak nama panggilan, yang paling kuingat adalah adik kabau. Sampai sekarang aku enggak tahu kenapa bisa begitu.
Adikku waktu bayi terlihat seperti cowok. Mukanya judes dan mirip ayah. Sewaktu balita, hobinya mengamuk. Dia akan menangis kencang atau menjadi bawel yang berujung pada: dia ngantuk lalu tidur sendiri. Kebiasaan ini terus ada hingga sekarang. Heran. Kalau sudah menggerutu begitu aku biasanya menggoda dia yang punya perut buncit dengan bilang "Ibu hamil!" (sebenarnya norak banget sih ini).
Semasa TK, dia punya banyak teman. Dia aktif ikut drum band dan menari. Gurunya juga menunjuk dia untuk baca puisi di acara sekolah. Padahal baru bisa baca.
Kami kemudian masuk di SD yang sama. Kerjaanku selalu sama: memalak adik ke kelasnya kalau uangku sudah habis. Bagusnya, dia enggak keberatan. Kami sama-sama suka ikut lomba di sekolah, tapi bedanya aku enggak pernah menang dan cuma jadi kolektor sertifikat peserta, kalau dia ikut lomba pasti ada aja menangnya. Enggak heran, sebab dia jauh lebih pede dan lebih rame alias ekstrovert dibanding aku.
Waktu dia SD, dia sudah akrab dengan laptop dan tablet. Dia suka sekali main game yang berakhir dengan minus pada matanya.
Dari kecil sampai sekarang, nyaris tidak ada satu haripun terlewatkan tanpa pertikaian kecil. Mumpung kami cuma berdua, jadi selalu ada saling tuduh kalau bikin kesalahan. Tapi marah-marah sama dia enggak bisa lama-lama. Tiba-tiba aja cair sendiri.
Karena cuma berdua juga, jadi bisa saling lempar tugas.
Mama: "Mbak, tolong belikan mama bawang merah di Bu Guntur."
Aku: "Dek beliin bawang"
Adik: "Kan kamu yang disuruh"
dan terus begitu.
Dia punya satu boneka monyet dari SD yang masih dibawa-bawa sampai sekarang. Dia bisa ngambek dan ngamuk kalau mau tidur enggak ada boneka itu. Padahal naudzubillah wangi bonekanya.
Dia seperti happy virus di keluarga. Kalau enggak ada dia ya sepi.
Dia kalau belajar enggak pernah bisa sambil duduk anteng. Dia bakal muterin kasur, dengerin lagu keras-keras, atau teriak-teriak gaje sampai PRnya selesai. Aku yang kewalahan.
Dia masih suka nonton acara anak-anak bahkan sampai dia SMP. Spongebob Squarepants dan Upin Ipin adalah kesukaannya.
Dia cupu karena nggak berani bawa motor hahaha :p
Tapi dia pinter sekali, terutama di bidang IPA-IPA-an. Dia juga pinter menari. Dia enggak segan mencoba hal baru - dan dia sudah buktikan - seperti di bidang debat bahasa Inggris. Padahal waktu kecil enggak pede kalau disuruh speaking.
Sekarang dia jauh sekali sekolahnya; satu hal yang bikin aku bangga. Dulu aku pingin masuk ke sekolah itu, tapi sungguh ragu. Adikku menjawab mimpiku itu. Lebih bangganya lagi, dia bisa lewati semua yang susah dan enggak ragu berprestasi. Uwu.
Dan teruntuk adik,
Yang kalau ngantuk mesti isi acara marah2 dulu sampai nangis,
Yang keras kepala,
Yang sering jailin aq kalau lagi bikin pr di kamar,
Yang frEak,
Yang tampangnya garang padahal hatinya sensitif sekali,
Yang hobi betulin remot tv dan benda elektronik lainnya,
Yang pilih2 makan,
Yang waktu usia 3th belibet pesawat jd sepawat,
Yang berantakan,
Yang nyaris selalu dibilang gamirip,
Yang sering aq suruh beli2 ke warung,
Yang hampir tiap hari kalau di rumah tuh berantem mulu dan itu pasti dengan aq,
Yang sosoan pake lip cream padahal masih bocah,
Yang manja (y dah mendingan skrg),
Yang punya boneka monyet gaboleh ilang dari tk sampai sekarang,
Yang q sebut SAIPUL sebab nyanyi mulu gjls,
Yang kalau gaada dia bakal sepi,
Yang jadi 2am deep-talks aq,
Yang kalau jauh ngangenin kalau deket ngeselin,
Yang pinter fisika tp aq goblok dsitu,
Yang jago debat bhs inggris,
Yang 1 1nya jadi adek aq tersayang~
Yang hari ini genap berusia tujuh-belas tahun~
Selamat~
Semua doa baik untukmu~
nb. Ditulis dengan kerinduan dan penuh tjinta walaupun cringe.
x


Komentar
Posting Komentar