Babak #28 - Body Shaming dan Shaming-Shaming Lainnya

https://pin.it/xruk3ebvk6qjux

Kita punya ukuran tubuh yang berbeda-beda. Tinggi, pendek, kurus, gemuk. Semua itu wajar aja. Yang enggak wajar adalah ketika kita mulai sok-sokan komentar soal itu dengan dalih bercanda. Padahal bagi orang yang dituju, komentar tersebut bisa jadi apa-apa bagi mental mereka.

Enggak usah munafik, kita mungkin pernah terlibat di percakapan basa-basi tentang perubahan fisik. Biasanya,nih, kalau lagi reuni sama teman atau keluarga. Perhatiin, deh. Ada aja yang bilang gendutan, kurusan, jerawatan, bintitan, dll, dsb. Seperti enggak ada bahan pembicaraan yang lebih berbobot saja.

Katanya, bercandaan.
Kitanya aja yang baper.

Baiklah, coba kita telusuri. Ada sebagian orang yang bodoamat dan menerima komentar itu. Tapi bagaimana dengan mereka yang (berusaha) bodoamat, diem aja saat di'bercandain', tapi setelah itu merasa sangat insecure dan kehilangan percaya diri?

Tingkat sensitivitas setiap orang itu berbeda, bro. Kita enggak bisa selamanya mikirin ego sendiri juga :)

Sejak kecil aku terbiasa menerima perundungan (bully) dengan kata-kata dan perbuatan yang arahnya merendahkan fisik dan kadang penampilan aku. Aku punya tinggi di bawah 160cm, yang bikin aku dikatai pendek. Ada juga temanku yang senasib, bahkan punya panggilan lebih kerad: cebol. Ini berlangsung dari zaman SD. Sampai aku kuliah pun masih ada yang bicara seperti itu. Bahkan, tak jarang datang dari keluarga.

Pernah ada yang bilang: "Kamu semester berapa sih? Kok tingginya masih segini-segini aja?"
yA mEnuRut NGana eManGnYA saYa bAkaL jaDi leBiH tiNGGi 20cm dALam sEtaHUn??? Ada-ada saja...

Saking seringnya, aku jadi kebal. Awalnya aku sungguh nolak badan aku sendiri. Aku selalu jalan nunduk, malu jalan dengan orang yang tinggi, dan lebih banyak diam.

Aku mulai merasakan kenaikan berat badan yang signifikan mulai usia SMP. Perubahan hormon bikin aku jadi hobi makan dan malas olah raga. Aku awalnya fine-fine aja,

Sampai kemudian ada yang 'bercanda' soal beberapa bagian tubuh aku yang agak besar.

Sejak saat itu aku semakin enggak pede. Jalan bukan cuma nunduk, tapi juga agak bongkok karena aku enggak mau orang notis aku kalau ada bagian tubuhku yang berbeda. Berpakaian pun jadi sebuah momen penuh pemikiran tentang 'Gimana ya kalau orang nilai aku A/B/C/Z kalau pakai baju ini' dsb dsb.

Yang kemudian aku sadari: komentar orang lain sudah menguasai pikiranku jadi negatif.

Barusan, aku menyimak podcast Raditya Dika dan Rachel Vennya di Spotify soal kehidupan Rachel dan cara membesarkan anak yang kalian bisa klik di sini. Ada satu percakapan mereka yang menarik di bagian Rachel yang ngomongin body shaming yang dia terima di media sosial. Dia dikatai tentang perubahan fisiknya setelah melahirkan.

"Gua dibilang gendutan, beda dari sebelum hamil, gua tau itu dan sebenarnya udah bodo amat. Tapi karena dibilang begitu, jadi ingat lagi."
Dan aku sangat setuju. Awalnya bodo amat dan berusaha nerima. Tapi begitu orang lain 'ngingetin' lagi, aku jadi kepikiran. Auto-rendah-diri.

Enggak cuma persoalan fisik aja yang sering jadi bahan obrolan toxic, orang-orang juga suka bacot soal gaya berpakaian dan make-up. Aku termasuk yang cuek soal gaya pakai baju. Dulu kalau liputan atau ke kampus ya sekadar pakai kaos dan jins, jadi. Kadang ditambah dengan kemeja kotak belel seadanya. Intinya ya yang penting mah gua nyaman dan rapi. Mantanku dulu pernah komentar bahwa dia enggak suka aku yang pakai kaos dua warna dan kemeja kotak. Dia mungkin berpikir enggak masalah mengkritik aku. Aku diam saja. Tapi kata-kata dia terngiang sampai pulang, bahkan sampai setahun setelah pisah. Kenapa? Karena aku enggak pernah setuju tentang konsep kita harus ikut campur tentang gaya berpakaian seseorang, bahkan kalau orangnya enggak setuju. Aku berpakaian bukan untuk nyenengin orang lain, kok. Selama enggak merugikan orang lain dan aku nyaman-nyaman aja, ya terserah aku mau pakai warna dan motif apa.

Begitupun dengan mereka yang komentari pakaianku setelah aku berhijab. Aku suka main warna yang komplemen (berlawanan, misal pink-tosca), kadang pakai rok dan kemeja, kadang keliatan kelewat rapi atau kelewat fesyen banget.

Sampai temanku bilang: "Kamu mau fesyen syow ya?"

Dan aku dalam hati kayak... yaudah sih emang kenapa.
Ini beda masalahnya kalau orang ngingetin cara berpakaian supaya sesuai syariat, ya. Kalau yang ini mah aku seneng diingetin, meskipun proses berubahnya pelan-pelan.

Dulu banget di semester awal, aku cuma pakai lip tint dan bedak tipis. Waktu awal-awal aku belajar make-up, aku kadang pakai eyeliner tipis atau pakai alis atau pakai sedikit alas bedak. Cuma penasaran aja. Saat itulah orang lain langsung komen, bilang: "Mau kemana pakai gituan?!"

Kenapa sih kalau enggak suka tuh mending diam saja. Mereka enggak tahu apa yang aku lalui ketika berani belajar make-up. Mereka enggak tahu what did I fight to be in this phase. Yang mereka tahu, Ujay berubah, Ujay pakai make-up dan menor, atau Ujay pakai baju warna nabrak.

Tapi apa yang aku lalui ini enggak seberapa dibanding apa yang dialami sama Miss Korea 2018 yang dapet body shaming keras dari publik Korea karena berat badannya enggak sesuai 'standar'. Coba tonton deh.


Body shaming dan shaming-shaming lainnya yang masih sering ditemuin di sekitar kita mengindikasikan bahwa lingkungan kita belum siap menghadapi perbedaan. Padahal perbedaan itu enggak membuat hidup yang lain jadi kenapa-kenapa, loh. Dan yang paling penting, ngatain orang itu enggak bikin hidup serta penampilan pelaku itu lebih keren dari korban. Mungkin, dia lagi nutupin kekurangannya dengan berusaha kasih 'power' berupa body shaming ke yang lain. Jadi, yuk sama-sama berusaha ngerem kalau mau ngomongin fisik orang, belajar hargai perbedaan, dan cintai diri sendiri!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

^^

Things That Make Me Happy♡

TAYVIN ENDED