2.0.1.9.
Just like any other years, I learn a lot, again. Not because I am still in college, but life has never been this challenging. So much dramas, teardrops, sambats, and fighting the egos. Nevertheless, I find myself quite happy, healthy, and surrounded by my beloved ones.
Awal tahun, aku bertualang dengan dua temanku, Chaca & Odri ke Bandung. Sejak akhir Desember aku menghindari Instagram dan ternyata bisa nahan ego enggak share enak-enaknya liburan. Susah, susah banget ngejalaninnya. Rasanya keren dan senang kalau bisa kasih tahu orang lain 'Ini nih, gw lagi liburan ke sini', belum lagi ngelirik-lirik jumlah likes yang didapat. Kalau dikit, jujur, ada kecewanya. Aku pernah cerita di postingan sebelumnya, aku pribadi terganggu dengan kisah-kisah orang lain di Instagram sampai bikin aku cemas dan mengasihani diri sendiri. Di satu titik, mataku lelah ngelihat isi story orang yang banyak, dengan tema yang kadang sama (ultah, sidang, liburan). Langkah bijak yang aku ambil, sejenak menepi dari hiruk pikuk Instagram. Bukan aku melarang kalian naikin postingan apa aja, kalian bebas pilih apa yang mau kalian bagi ke publik. Hanya saja ini soal aku sendiri yang merasa enggak nyaman. Problemnya di aku.
Liburan sama temen ternyata seru, ya. Aku enggak pernah jalan-jalan yang sampai nginep di luar kota dengan beberapa temen. Enggak cuma dapet liat-liat isi kotanya aja, tapi juga bisa ngenalin diri sendiri. Aku belajar pahamin temen aku gimana kalau di situasi-situasi tertentu, belajar kendaliin ego, dan bisa tuker isi pikiran.
Tahun ini aku belajar percaya lagi sama urusan cinta-cintaan. Sebelumnya mana ada. Setelah satu kejadian tahun lalu, seperti ada sedikit 'trauma'--not sure if I can name it trauma--sepanjang tahun yang bikin aku males banget banget mulai sesuatu yang baru. Capek banget. Ternyata ada satu orang baru yang enggak pernah kepikiran bisa jadi deket dan enggak dipaksain untuk deket juga. Begitu saja. Enggak gampang untuk mulai lagi dari awal. Aku bahkan nanya ke diriku sendiri, orang pacaran tuh gimana sih? Harus nge-chat tiap jam atau tiap saat? Harus kabarin ina inu ke dia? I literally got no clue. Asli. Konyol sih, tapi serius, kayak berusaha sembuh dari mati rasa.
Orang ini yang akhirnya bisa bantuin aku melewati senang dan sedih di 2019. Mulai dari sambat setiap selesai ngaslab di kelas Web Apps, stres nugas, jadi tempat nampung curhat karena capek banget pas magang, Kebayoran-Serpong naik motor untuk nganter aku pulang padahal rumahnya jauh, dan selalu bisa bangkitin semangat lagi saat pinginnya berhenti aja dari kesibukan. Padahal sebenernya dia jauh lebih butuh dukungan itu.
2019 buatku adalah perjuangan sendirian.
Maksudnya, apa-apa jadi harus bisa dikerjakan sendiri. Semester 6, banyak tugas yang kudu di-handle tanpa temen kelompok, beda dari semester-semester sebelumnya yang masih banyakan tugas kelompok. Lepas itu, nyari magang sendirian. Bodo amat yang satu milih apply Metro TV yang satu Liputan6com. Dari bikin CV, nungguin panggilan wawancara yang enggak pasti, sampai keterimanya juga ya sendiri banget. Masih inget, nangis diem-diem di pesawat karena udah deket hari ngurus KM tapi belum juga ada panggilan magang. Tapi rejeki is rejeki; rahasia Tuhan. Cepat atau lambat, kalau memang jalannya di sana, ya dapat aja. Ternyata aku dipanggil untuk detikcom.
Magang sambil Sempro dan handle Ultimagz sungguh menguras energi dan pikiran. Adaptasi sama jadwal yang beda banget sama kuliah biasa itu wow banget rasanya. Badan sering udah pingin rontok aja, tapi alhamdulillah Allah kasih kekuatan yang luar biasa. Beda jadwal ini bikin apa yang dikerjakan aku sama temen-temenku jadi beda-beda banget juga. Jarang bisa haha hihi bareng; ngumpul abis jam kelas yang seminggu sekali aja udah syukur.
Segala masalah yang didapat di tempat magang, serunya liputan dan nulis dari cerita orang-orang yang gokil, belum lagi ritme kerja yang ampun cepet banget, dihadapin sendiri. Sampai bikin laporan magangnya pun ya gerak sendiri. Mau lu cepet sidang mau lu kloter terakhir, enggak ada yang gerakin kecuali diri sendiri. Mau lu bimbingan mau kaga, ya urusan lu, bukan dospem. Segitu kerasnya, semester 7 ini.
Mungkin banyak junior--termasuk aku juga pada awalnya--mikir, semester 7 kan cuma 1 matkul dan sisanya magang, sabi lah santai-santai. Tapi tidak begitu, Pulgoso. Justru bagi aku ini lebih berat ketimbang semester lain. Lebih beratnya soalnya magangku cukup padat dan kudu melawan rasa malas supaya bisa menyelesaikan laporan & perintilannya. Stres ini kadang bikin lupa makan, cucian numpuk, enggak telpun ortu, ribut sama pacar, sampai turun berat badan.
Diri sendiri juga berjuang untuk lebih menerima. Terima kalau ya, setiap orang itu emang beda. Admit kalau diri ini punya kekurangan, punya ego yang bisa dikontrol, punya kesempatan dan kekuatan yang berbeda dengan yang lain. Selamanya enggak akan bisa jadi orang lain. Chill dan bodo amat itu kunci untuk nerima keadaan. Pun, kalau dapet partner kerja atau pasangan yang sifatnya a-b-c, katanya itu bukan tugas kita yang ngubah dia. Kudu cari celah untuk terima dan bersedia cabut kalau tidak bisa berjalan beriringan. Terima juga kalau aku punya bagian tubuh yang enggak sesuai standar orang. And that's totally okay. Sangat amat banyak celah untuk bersyukur.
Selamat untuk kalian yang sudah melewati gelombang-gelombang kecil di tahun 2019! Semoga apapun yang akan dihadapi di 2020 adalah berkah dan kesempatan untuk jadi gemilang! xoxo

Komentar
Posting Komentar