Suatu Hari Bersama Ultimagz

<3
Masuk Ultimagz sudah jadi mimpi sejak aku mantap memutuskan kuliah di UMN. Alasannya, aku perlu tempat untuk menampung keinginanku: belajar dan berkembang di bidang Jurnalistik *anjay*. Maka dengan pedenya aku daftar dan ikut tahapannya di awal masuk kuliah. Namun, ternyata Tuhan bilang "Enggak". Langkahku terhenti. Ultimagz enggak butuh aku saat itu, tapi yang lain yang lebih kompeten.

Luka setelah ditolak itu membekas. Banyak pertanyaan wawancara yang terngiang, dan bagaimana aku menjawabnya dengan ego kala itu. Aku putuskan menghabiskan masa-masa awal kuliah dengan nari tradisional dan dance cover k-pop di dua UKM. Senin-Kamis selalu pulang malam.

Singkat cerita, puluhan Senin-Kamis terlewati dan aku sampai di semester 3. Tekadku bulat untuk masuk media kampus lain, bahkan aku sudah survei mau ambil divisi apa. Suatu hari, Fanni temenku nge-share Ultimagz lagi oprec dan muncul di Line. Aku langsung kepikiran: kayaknya nyesel deh kalau enggak daftar. Seminggu aku biarin pikiran untuk daftar Ultimagz itu muter-muter di kepala. Sampai akhirnya sisa beberapa hari sebelum tutup pendaftaran, hatiku tergerak untuk siapin berkas-berkas. Yang ada di benak aku saat itu, bodo amat mau keterima atau enggak, seenggaknya nyoba dulu daripada nyesel. Seperti mau ngetes seberapa jauh aku bisa lewatin tahapan oprecnya. Nothing to lose.

Ketika membiarkan semesta bekerja, di situ keajaiban muncul. Namaku ada di deretan reporter-reporter baru. Alhamdulillah. Petualangan baru dimulai.

Masa awal di Ultimagz adalah masa-masa aku bingung. Aku kudu nyesuaiin kebiasaan baru nulis 3 artikel seminggu, mengimbangi dengan tugas kuliah, dan kegiatan-kegiatan UKM. Adaptasi itu enggak mudah. Woh, aku bahkan enggak pernah main ke redaksi karena takut interaksi sama anak-anak lain dan takut malah awkward. Aku juga bingung pas senior bilang di makrab kalau Ultimagz adalah keluarga... hmm di sebelah mananya ya? Saat itu aku bilang dalam hati: Oh, mungkin aku memang harus mencari tahu sendiri, apakah rasa nggak nyaman memang datang dari tempat itu, atau aku sendiri yang belum nyamanin diri di tempat itu.


nonton mata najwa
makrab 2019

Semester selanjutnya, aku baru berani ambil slot liputan di luar UMN. Inget banget, liputan Presscon Java Jazz sama Berdy. Bingung banget kudu gimana kalau liputan gituan, tapi Kak Christo waktu itu bantu aku. Angkat tangan untuk nanya ke promotor acara di tengah-tengah wartawan media gede ituuu yaampun naudzubillah takut banget. i hate talking in a big crowd actually, but i decided to challenge myself that day.

Setelah hari itu, aku belajar untuk ambil-ambil kesempatan liputan di luar yang seru-seru banget. Pun yang di UMN, enggak kalah serunya. Belum lagi belajar nulis dan nyerap ilmu-ilmu dari senior dan temen-temen. Pengalaman ini enggak akan aku dapetin kalau hanya kuliah di kelas aja. Aku pun mulai memberanikan diri main ke redaksi untuk nongkrong sambil ajakin Odri. Di semester 5, aku ditawari jadi editor. Setelah itu aku beneran jadi editor. Beberapa kali teledor dan lama ngedit, beberapa kali kena tegur, dan hal-hal ini bikin aku belajar dan belajar lagi.

Di suatu rapat, namaku disebut sebagai calon pemred sama Ijo dan Hilel. Rasanya? Panik, takut, nggak tahu harus gimana. Dulu, Odri pernah ceng-cengin aku bakal jadi pemred, tapi ga pernah sedikit pun aku mimpi dapet dan mau posisi itu. Setelah hari pengumuman calon itu aku cemas. Setiap hari aku sering bengong, deg-degan, mules. Waktu temen-temenku ngobrol di kantin, aku nunduk liatin makanan aku sambil ngunyah pelan. Malam sebelum pemilihan BPH & Kadiv, aku hanya ngeliatin layar laptop, nangis senangis-nangisnya. Pokoknya aku gapengen kepilih!

Kepanikan yang luar biasa selama hampir sebulan itu akhirnya aku tutup dengan perasaan bodo amat. Ah, yaudahlah gimana hasilnya bodo amat, yang penting aku bisa ngomong pas presentasi. Cukup. Voting lalu menunjukkan Ijo menang. Alhamdulillah! wkwkwkw.

pascapemilihan BPH & Kadiv
uwu sertijab
yey

Menjadi redaktur pelaksana ternyata punya pekerjaan yang cukup kompleks, kataku pada saat itu. Ngurus slot liputan dan kirim ke grup Medrel, bantu konten medsos sama PR, bikin konten IG dan majalah bareng Visual, bikin Fokus sama IT, pokoknya DUAR kaget tuh di awal-awal. Aku juga harus beradaptasi sama timku. Sering banget dulu aku seminder itu, sampai setiap pulang rapat aku nangis karena ngerasa enggak guna, enggak sekeren mereka, enggak sehebat mereka, dan obrolan yang belum nyambung sama aku. Beberapa bulan kemudian, aku sadar ini enggak bisa dibiarin. I mean, kalau gue kalah sama pikiran negatif gue, kapan gue bisa bersinar? Kapan gue bisa beneran keluar dari zona nyaman? Lalu aku memutuskan untuk tetap jadi diri sendiri. Aku enggak se-verbal timku, tapi aku yakinin diri sendiri aku juga bisa manfaatkan celah, mengisi kekosongan, apa-apa yang jadi kelemahan mereka.

makrab BPH & Kadiv wkwk

di suatu rapat

Dan, yeah, perjalanannya enggak selalu mulus. Ada banyak hari aku menyerah sama pikiran negatif aku, ada beberapa hari aku pusing kudu ngurus beberapa hal, ada banyak hari aku nyutnyutan karena capek magang tapi juga harus kontrol liputan anak-anak. Tapi ada ratusan hari yang aku habiskan dengan ketawa dan seneng-seneng sama mereka. Setiap Selasa aku selalu suka antusias mereka nanggepin Ijo, nyimak pelajaran Mobile Journalism dari aku, dan diskusi sama Hilel. Setiap Selasa, Rabu Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu, dan Senin--hari-hari yang berlalu, aku mulai menemukan titik rasa kekeluargaannya ada di mana. Bukan cuma redaksi aja, tapi juga sama BPH dan Kadiv lain, sama anak-anak divisi lain. Aku selalu seneng ngelihat semangat yang berkobar untuk angkat panji Ultimagz *anjay apasih*, semangat melihat mereka semua berjalan bareng untuk tujuan yang sama, yang bikin semangatku terpantik juga untuk gerak maju. Selisih paham, jelas ada. Hadapin drama yang luar biasa, ada. Bosen, ada. Kalau hari-hari itu hadir, aku meyakinkan diri, this too shall pass. Bismillah, yakin aja, santuy, entar juga lewat kok badainya. Ada banyak orang di Ultimagz yang selalu bisa bikin aku senyum dan pede jalaninnya. Mereka-mereka yang secara langsung dan enggak langsung kasih dukungan ke aku. Semua yang bikin tugas ini jadi lebih enteng.

kabinet resmi dibubarkan

Akhirnya, hari itu tiba. Hari di mana aku sama BPH & Kadiv yang lain turun tahta. Lega sudah melewati semuanya, tapi di sisi lain sedih banget. Enggak ada lagi ribut-ribut ngingetin bayar kas, ngisi slot liputan, dan lain-lainnya. Kosong banget. Seketika aja setelah aku keluar UMN pulang dari makrab, rasanya kayak Ari Lasso: Hampa. Bisa enggak sih, diperpanjang dikit kontrak kita? Kagak, ya? Huhuhu :'(

Terima kasih, ya, Ultimagz. Aku bisa bilang sekarang kalau aku sudah lebih dari nyaman ada di sana. Terima kasih sudah bikin aku berani lompat lebih tinggi keluar dari zona nyaman. Terima kasih sudah dipertemukan dengan kawan-kawan yang baik, senior-senior hebat, yang enggak pernah takut untuk bermimpi, yang selalu punya tujuan. Terima kasih sudah menerima kekuranganku dan maaf jika aku belum bisa kasih yang terbaik. Terima kasih sudah membentuk Ujay jadi anjay Ujay yang sekarang dan terima kasih sudah percaya sama aku dan rekan-rekanku: Fanni, Dinda, Shania, Ergi, Ijo, Billy, Nadine, Hilel, Shaka, Debo, Chaterine, Rano, There, Pierre. I love u lots, BPH & Kadiv, kalian semua tuh keren tau gak! Wkwkwkw maaf ngegas, I do love you, thank you for your dedications. You did that very well!


beberapa angkatan 2016

reporter <3


luph u

Untuk penerus-penerus Ultimagz, Azhar, Rini, Stella, Lintang, Annisa, Abel, dan kawan-kawan, kami percaya kalian bisa bawa Ultimagz jadi lebih baik.  I love you too, guys! Good luck!


Goodluck <3

Komentar

Postingan populer dari blog ini

^^

Things That Make Me Happy♡

TAYVIN ENDED