Pelajaran dari Masa Kecil
catatan tengah malam
---
Lalu lintas pikiran sedang ramai, jadi lebih baik aku uraikan satu persatu.
Ada nilai-nilai dari pengalaman masa kecil yang--baru aku sadari--sangat penting untuk bikin aku terus tumbuh. Nilai2 itu kadang lupa diterapkan saat dewasa. Emang sih, ada banyak hal yg terjadi selama jadi kita yang sekarang, yg (misalnya) bisa bikin org yg ambis bgt terus pas gede jadi org yg go with the flow. Kalau versi aku, kadang aku lupa untuk bersikap bodoamat dari kata2 org dan lupa untuk tetep pede tunjukin yang kita punya. Gampang insecure-an.
![]() |
| me, circa 2002 |
Kalau liat foto pas fesyensyow di acara TK dulu, rasanya ada banget yang dipelajari dari kejadian sebelum foto itu ada.
Supaya gampang, aku copas aja caption foto ig yang gk jadi aku publish ini:
It is probably one of my fav childhood photos. Here's what behind this photo: This 4-year-old girl had her first fashion show at school and did it as a couple with classmate. Days before she came out on stage (and had this photo), she hid herself for couple days, refused to practice because she did not like how the teacher teased her with her partner (like ciee ciee thing). But suddenly she came up during the rehearsal as if nothing happened. Like wow she is going to be 23 this year and need to learn from that red-skirt girl.
Maafkan bhs inggris yang agak kacau, tapi poinnya adalah jika ditelisik lagi ke masa kanak-kanak, aku ternyata bisa membal dari kejadian yang bikin sedih atau mengecewakan. Aku gak melampiaskan dengan teriak2 atau banting2 atau nangis2 manja, tapi memilih stop melakukan itu. Setelah ngerasa baik-baik aja, aku kembali lagi ke kegiatan itu dan bisa deal dengan situasi tsb. Tanpa ortuku memohon.
Waktu aku kelas 6 SD, aku ikut main di operet yang zaman itu bener2 ditunggu2 tiap acara kenaikan kelas. Dulu aku emang aktif di klub drama dengan bikin naskah2 utk latian (dan pernah dimarahin bgt bgt sama kakak pelatihnya). Oke, di operet itu aku dipilih jadi pembantu yang dialognya 1 atau 2 line saja dan tugasnya membukakan pintu rumah keluarga ningrat. Aku ga protes apa2 cuman di pikiranku saat itu ada sedikit rasa ingin nambah barang 3 atau 5 dialog lagi supaya lebih worth-it kalau running dari awal mulai sampai akhir (dengan kemunculan yang sedikit).
Operet itu punya satu narator yang sebenernya termasuk karakter yg khas. Dia gayanya seperti feni rose, lebih alay lagi, dan punya tatanan rambut jengkellin (anak 90an mesti tau). Jadi dia adl bagian dari cerita. Temenku, yang adl temen baikku selama sekolah, itu dipilih jadi narator.
Suatu hari mendekati pentas, kami seperti biasa latihan sepulang sekolah, running dari awal sampai selesai. Di pertengahan, pelatih kami bilang kalau beliau nggak suka sama aktingnya narator. Kami disuruh milih: ngga pakai narator sama sekali atau ada yg gantikan posisinya.
"Ada yg mau jadi narator?"
Semuanya diem.
Pikiranku bener2 nolak kalau si narator hilang dan cuma pakai dubbingnya aja. Soalnya dia salah satu karakter kunci di operet ini karena unik dan lucu. Kalau ga ada dia, aku yakin ceritanya jadi hambar.
Tanpa ragu tanganku udah ngacung. Semua langsung liatin aku terus aku jadi degdegan.
Sejak itu, aku sama temenku itu bertukar peran. Ada rasa nggak enak sebenernya, untung dia nggak marah. Karena peranku baru, aku berusaha kerasa supaya gak malu2in dan gak bikin pelatihku nyesel. Untungnya, pas pentas aku bisa lakukan yang harusnya aku lakukan. Guru matematik aku suka peranku dan pentasnya oke.
Begitu sekarang jadi orang dewasa, aku suka takut ambil keputusan. Sering sekali mikir terlalu jauh sampai malah gak jadi apa2. Kebayang gak, gimana hal2 bisa berubah jadi lebih seru nan keren hanya karena kita berani bilang "nggak" atau "ya" atau kata lainnya?
Terus balik ke foto fesyensyow, dulu kayaknya mudah bergerak lagi setelah jatuh, tanpa dengerin omongan orang. Sekarang, malah gampang terlena kalau ada yg ngomong jelek soal kita seakan semuanya benar. Padahal ada pilihan untuk selalu memilah. Padahal, kita sendiri juga bisa brtanggung jawab utk saring mana yg perlu diambil utk memperbaiki diri, mana yg cuma gibberish doang. So yeah, coba untuk bikin batasan yang jelas supaya hidup makin enjoi. Just like those primary school life.

Komentar
Posting Komentar