Selamat Hari Raya!



Lebaran keluargaku barangkali sedikit berbeda dari keluarga lain. Mama hampir tidak pernah membuat opor dan sejenisnya di hari lebaran. Tak ada kostum seragam sekeluarga, begitu pun dengan baju warna senada. Foto lengkap berempat? Sepertinya hanya sekali, itu pun beberapa tahun yang lalu.

Ya, begitulah. Namun ini bukan berarti keluarga kami sedang konflik atau tak dekat.

Ayahku aktif di organisasi PHBI atau Pengurus Hari Besar Islam. Sekarang bahkan katanya didapuk jadi ketua di kecamatan. Oleh sebab itu, ayah selalu sibuk, terutama di H-1 dan hari H. Dia lebih sering berangkat lebih awal dan selesai paling akhir kalau ada salat ied. Usai salat, biasanya beberapa jam setelahnya kami langsung berangkat mudik ke Probolinggo.

Alhasil, kami tak punya waktu banyak untuk menerima tamu atau makan opor. Pun demikian dengan foto bareng. Kadang2 keluarga Dindin, tetangga sebelah rumah, mengirim ketupat (bahasa balinya adalah Tipat) dan opor atau kare. Lumayan untuk sarapan.

Pertama kalinya aku merasakan ✨️vibe✨️ lebaran yang sesungguhnya adalah saat pandemi 2021. Kala itu, setelah salat ied (yang digelar per blok), kelompok pengajian di perumahanku bikin acara makan2 di salah satu rumah warga yang cukup luas. Warga muslim bergiliran datang sesuai shift yang ditentukan. Menu makanannya pun beragam, ditata ala prasmanan. Dari sate gule sampai ayam betutu, semuanya ada. Pastinya halal, karena yang masak ya warga muslim sini juga. Berasa ada hajatan besar. Jalan perumahan sampai dialihkan ke gang sebelah agar acara kami lancar.

Senang sekali karena bisa silaturahmi dengan tetangga seumuran yang sangat jarang bertemu. Apalagi pemerintah belum beri lampu hijau untuk mudik, jadi hampir semua warga muslim rantau tumpah ruah di acara ini. Aku jadi bisa foto2 dan ngobrol lebih deket juga dengan ciwi2 muslim satu blok.

Bagian favoritku adalah waktu teman2 SMA ku sangat excited datang ke rumah. Oya, waktu SMA, yang muslim di kelasku cuma 3 orang: Dito, Wicak, dan aku. Kubilang aku tak mudik, jadi bisa open house. Mereka datang, bawa banyak hampers, dan makan-makan. Fyi, lebaran kali itu adalah pertama kalinya mama (dibantu aku, adek, dan budeku), bikin opor seniat itu. Ditambah lauk pauk khas lebaran lainnya, tentu saja.

Temenku betah sampai malam--malah nggak ragu bungkus opor untuk dibawa pulang. Bista bahkan sampai bela2in otw dari rumah nur (teman mainku dan bista, anak kelas seberang) di karangasem sampai ke rumahku di mengwi buat silaturahmi. Saking serunya kami ngobrol di ruang tamu, sampai2 tamu tetangga dan rekan2 ayah jadi sungkan masuk (hahaha maaf)! Lain kali kalau open house lagi, aku bakal bikin flow yang lebih bagus, deh, ehehe.

Lebaran paling ngenes barangkali tahun 2020. Aku tak bisa pulang ke bali karena kasus corona sedang gila2nya. Orangtuaku juga tak bisa mudik. Saat itu, aku menikmati lebaran di rumah budeku (kakak ayah) di BSD. Kami salat di halaman belakang. Lumayan, rumputnya bikin aku merasa seperti sedang salat di lapangan biasanya.

Tapi asyiknya, aku bikin ketupat from scratch! Jadi bude beli selongsong di pasar, terus aku isiin pakai beras, lalu kami kukus. Sebelumnya aku sering bikin selongsong begitu, tapi untuk ambil nilai matpel majejaitan (alias "karya seni" seperti bikin kreasi dari busung (janur), dsb) (Maaf udah lama sekali itu, aku lupa, apakah majejaitan itu bagian dari matpel bahasa bali atau berdiri sendiri). Intinya aku lebih sering mengandalkan temenku kalau harus bikin bentuk selongsong tipat yang susah.

Kembali ke lebaran 2020, waktu itu aku cuma bisa video call sama keluarga di bali, di probolinggo, dan sepupu2ku di kediri dan pasuruan. Saking banyaknya video call, jadi ada "video call" dalam video call hahaha. Mana pernah kami menyangka akan ada lebaran yang tak membolehkan kami makan rengginang langsung di rumah saudara mbah atau tak bisa update kehidupan (alias bercuap2) di kamar sepupuku yang penuh pernak pernik game?

Terlepas dari bertemu langsung atau tidak dan foto bareng atau tidak, bagiku lebarang selalu jadi hari spesial untuk keluarga dan teman2. Bulan ramadan juga, pastinya.

Lebih dari sekadar ucapan "mohon maaf lahir dan batin" atau kirim2an hampers, lebaran adalah hari kita merayakan suka cita, bersyukur, dan menguatkan tali silaturahim. Tak harus dengan hal2 materiil menurutku. Sesederhana bisa melihat keluarga dan orang terdekat sehat, misalnya. Plus, lebaran bisa kita jadikan hari untuk me-reset dan refleksi atas perilaku/ibadah yang kurang baik. Seperti meng-let go seikhlas mungkin soal hal2 yang udah lewat.

Baiklah, selamat hari raya idul fitri 1443 H!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

^^

Things That Make Me Happy♡

TAYVIN ENDED