Love-Hate Dairy Products
Ini masih awal bulan. Baru gajian, dompet masih aman.Hari-hari gini, gelas-gelas plastik berembun dengan merek toko kopi franchise
jadi pemandangan biasa di meja kantor.
Kalau udah tanggal 15-an, baru tuh keliatan gelas kopi kertas warna kuning:
kopi Jump Start hangat seharga Rp 6.000-an.
Badan gue sebenarnya cupu, enggak kuat kena kopi. Efeknya bisa macem-macem, kadang muncul satu doang atau keroyokan: mules, deg-degan, gemetar, ngerasain caffeine rush. Hampir semua merek, ya, begitu.
Gue menghindari ice americano dan sejenisnya, soalnya pahit banget dan takut maag gue kambuh. Alhasil, selalu lari ke kopi susu extra-sweet. Bahaya emang. Sekarang, sih, kadar gula darah gue normal. Tapi kalau tiap minggu gue beli gituan, selain dompet gue bocor, tentu berisiko diabet.
Akhir-akhir ini gue jadi curiga, jangan-jangan gue memang punya lactose intolerant, alias toleransi setipis tisu terhadap produk olahan susu. Soalnya enggak cuma kopi, badan gue juga bereaksi pas minum susu pagi-pagi. Jadi cepet mules gitu. Kalau liat penjelasannya Alodokter, intoleransi laktosa tuh gangguan pencernaan karena tubuh enggak bisa mencerna laktosa. Biasanya ditandai dengan diare, perut kembung, atau sering buang angin setelah mengonsumsi makanan atau minuman produk susu.
![]() |
| Lihat betapa mahalnya harga susu saat ini. |
Padahal, susu tuh bestie gue selalu. Dari kecil, dibandingkan adik, gue sangat suka susu. Gue dulu istiqomah minum susu sejak SD sampai SMA, dari merek Dancow, PediaSure, Bonetto, sampai HiLo–biarpun dua terakhir ini enggak ada ngaruhnya sama tinggi gue (hiks). Rasanya ada yang aneh kalau sarapan gue skip minum susu. Eh jangan bayangin pemandangannya kayak minum susu putih setinggi gelas yang ada di sinetron, gue enggak begitu, kok.
Pernah sekali gue punya pengalaman menyedihkan soal susu. Pas gue masih magang tahun 2019, gue sarapan roti, susu, sama keju. Kayaknya itu sebelumnya perut gue udah enggak enak. Jadilah tiga combo itu bikin gue diare. Tumben banget, biasanya gak segitunya, gue yakin. Bisa jadi, itu karena emang perut gue gak kuat, atau karena produknya gak higienis, atau karena gue udah makan sesuatu yang bikin diare sebelumnya (keracunan makanan or smth).
Nah, karena kepikiran soal lactose intolerant ini, gue jadi beralih ke susu bebas laktosa
kayak yang mereknya Milk Life atau Cimory Fresh Milk. Enggak selalu, sih.
Tapi ini alternatif, terutama kalau gue pengen bikin kopi susu sendiri.
Harapannya biar enggak mules-mules banget.
Kalau ditanya, emang ngaruh?
Enggak terlalu signifikan wkwkwk tapi yaudahlah.
Kadang, kalau lagi ngerasa kaya, gue suka ganti susu biasa sama soya
kalau beli Fore atau kopi franchise lain. Seringnya enggak, sih, soalnya mehong :^)


Komentar
Posting Komentar