Suatu Sore Kelabu
(based on my friend's love story)
Prita menyesap tehnya. Sesekali ia menoleh kea rah
lelaki di pojok kafe itu. Ryan. Lelaki yang berhasil melupakannya sejak
beberapa tahun lalu. Tapi tidak begitu dengan Prita. Ya, masih saja bayang-bayang
lelaki yang dipujanya itu ada setiap waktu. Tragisnya sampai sekarang. Dan
begitu Prita melihat wajahnya, luka lama itu terkuak lagi. Prita kembali
menyesap tehnya. Pahit. Sepahit kenyataan ini. Ah, andai saja ia tak mengenal
Ryan, semua takkan jadi begini. Ia ingat, ingat sekali malah, kejadian 5 tahun
lalu.
Waktu
itu mereka masih SD. Lalu tumbuhlah cinta itu. Orang bilang cinta monyet. Tapi
Prita tak peduli. Yang ia tau, Ryan adalah cinta pertamanya, dan Ryan pernah
mengaku kalau ia juga menyukai Prita. Ryan pernah menyuruh Prita menunggu
sampai kelas XI SMA. Biar cukup umur untuk pacaran, katanya. Maka itulah Prita
setia menunggu hingga detik ini. Walau harus menyiksanya dengan luka yang makin
lama makin dalam. Sewaktu masuk SMP, Prita sudah tidak terlalu dekat dengan
Ryan, apalagi mereka berbeda sekolah. Tapi Prita tak peduli, karena yakin Ryan
masih memegang janji itu. Prita pernah mendengar bahwa Ryan sedang dekat dengan
teman sekolahnya. Sakit? Sudah tentu. Tapi ia tak dapat berbuat apa-apa selain
bersabar dan menunggu. Ya, tragis memang, menunggu sesuatu yang tak pasti.
Hari
demi hari berlalu, jarang sekali Prita mendapat kabar dari Ryan. Sekedar
berkabarpun tidak, apalagi bertemu. Kemudian Prita tau bahwa Ryan sudah punya
pacar. Sejenak pikirannya melayang, “Apa
bener dia punya pacar? Lalu buat apa dulu kita berjanji? Hanya akan menorehkan
luka, kan? Lalu kenapa aku madih setia menunggu demi janji tolol itu? Bodoh.”
Semua sudah memberi tanda yang jelas. Foto, tweeti,
dan bio Twitter menandakan jelas
bahwa Ryan memang memiliki hubungan special dengan Gita. Ya, namanya Gita.
Cantik, putih, idaman semua pria. Akh, Prita makin minder saja. Tapi entah
mengapa, seperti tersihir, Prita masih menunggu, masih menanti cinta yang tak
pasti itu. Dalam hati kecilnya, ia masih sangat berharap Ryan masih
menyukainya. Yah, masih mengingatnya saja sudah bagus. Teman-teman Prita
menyuruhnya move on. Tapi apa?
Melakukan move on tidak semudah mengatakannya. Biarpun di bio Twitter Prita
menulis ‘Move On’ tapi nyatanya?
Jangankan di Twitter, buku tulisnya saja masih penuh dengan nama Ryan yang
diganti dengan inisial ‘32’.
Nomor absensi Ryan di sekolah. Tidak, tentu saja tidak mudah melupakan
kebiasaan yang sudah lama kita lakukan. Begitu pula dengan Prita.
Di
seberang sana, ternyata sudah ada yang benar-benar lupa dengan janji manis itu.
Ya, Ryan sudah lupa. Bukan tidak sengaja lupa, tapi ia sendiri yang
melupakannya. Menurutnya, itu hanyalah permainan bodoh saat SD yang lebih baik
dilupakan saja. Lagipula Ryan juga tidak memiliki rasa apa-apa lagi dengan
Prita. Kini, ia jatuh hati dengan Gita, dan berpacaran dengannya. Yang Ryan
tidak tau, di seberang sana ada yang menganggap janji itu ada, dan nyata.
Bahkan dia telah berkorban banyak sampai rela terluka parah demi Ryan. Sayang, Ryan tidak tau, atau bahkan tidak
mau tau. Jahat? Mungkin sebagian dari kita mengaggap seperti itu. Tapi itulah
kenyataan. Dan akhirnya 5 tahun itu berlalu…
***
Prita
masih di kafe, dengan cangkir the di tangannya. Ia memasang headset pada kedua
telinganya, lalu memutar sebuah lagu; Like
We Used To.
Sementara
itu, Ryan ternyata sejak tadi menunggu seseorang. Kini yang ditunggu telah
tiba. Gita. Prita memperhatikannya
diam-diam. Tak terasa sesuatu hangat tumpah ke tangannya. Ya, tanpa sengaja air
matanya meluruh. Air mata yang selalu membuatnya lemah dan kalut. Air mata yang
menggetarkan hati dan pikirannya selama 5 tahun terakhir. Prita meremas
cangkirnya. Tangan yang satu lagi menepuk dada kirinya dengan pelan. Pelan tapi
penuh perasaan. Ia bisa merasakan semua luka itu. Perih, perih sekali. Air
matanya tak kunjung berhenti. Terus mengalir, membawa rasa gelisah yang
membayangi selama ini. Hati kecilnya benar, sudah seharusnya Prita melupakan
Ryan. Sejak Ryan melupakannya. Prita tau ini sungguh tak mudah. Ia sudah
berkorban sebanyak ini, sejauh ini; tapi apa? Ryan benar-benar tega. Dengan
mudahnya Ryan melupakan janji itu. Janji yang katanya ‘konyol’. Janji yang
secara tak langsung membutakan mata dan hati Prita untuk laki-laki lain. Dengan
mudahnya Ryan memegang tangan lalu merangkul Gita, bukan Prita. Prita yang
sudah terluka parah dalam
pengorbanannya demi Ryan. Lima tahun itu tidak sebentar, kan? Ya, Prita sudah
terluka selama itu. Lalu berapa banyak waktu yang akan dibutuhkan untuk move
on? Apa Ryan mau menanggungnya? Tentu tidak. Sudah pasti tidak. Dan Prita bisa
merasakan itu.
Awan
tebal sedari tadi melayang di atas kota. Rintik hujan mulai membasahi halaman
kafe, menciptakan aroma tanah yang khas. Prita menarik nafas dalam-dalam. Lalu
menghembuskannya. Perlahan, ia mengelus dada kirinya. Jiwanya sedikit lebih
tenang. Diambilnya tissue dari tas, lalu menyeka air mata dan hidungnya. Prita yakin bisa, pasti bisa;
melupakan Ryan sebagaimana Ryan melupakannya. Melupakan semua, semua
pengorbanannya; berkorban waktu, tenaga… bahkan mengorbankan perasaannya.
Ia
membayar tehnya, lalu berkemas pulang. Prita mencoba tak melirik ke arah Gita
dah Ryan. Mesra. Mesra sekali. “Ah andai
saja itu aku,” pikirnya. Tapi sudahlah, semua sudah berlalu. Seiring
langkahnya yang gontai menuju pintu kafe, ditemani derasnya hujan sore itu,
yang juga ikut membasahi relung hatinya yang terluka. Ia yakin, suatu saat luka
itu bisa sembuh. Suatu saat, pasti.
Hai! Dari tadi stalking blognya kamuu, suka deh cerita - ceritanya ! 💕 Simpel tapi seruu (anyway my name's Prita so reading this story kinda make me interested in some way). Salam kenal ya, sekaligus kalau sempat boleh dong mampir ke blog aku 😀
BalasHapusWah, haha makasih yaa😉 nice to know you too! Ini cerita udah jaman kapan hahah. Tapi makasih banyak ya, sering2 mampir. Pasti aku main2 ke blogmu deh😉
Hapus