Jauh
Aku udah jadian!
Satu
pesan singkat datang dari Dila. Faya menutup buku sketsanya, lalu mengetik
balasannya dengan cepat.
Wah.
Kok km yg dluan pcrn sih? Aku jmblo sndiri deh ):
Lima
belas menit kemudian, Dila membalasnya.
Wkwkwk
:D sori fay, mana aku tw dia suka sm ak. Tp fay, aku lg bingung ‘-‘
Kenapa
dil?
Km
kn tw aku sukanya sm siapa kn?
Hening
seketika. Dan semua makin ribet ketika Faya sadar, Dila pacaran dengan orang
yang tidak disukainya. Sudah lama Dila jatuh cinta dengan Ario, terpesona oleh
semua yang ada pada Ario. Tapi Farhan, teman baru Dila yang beberapa bulan
belakangan dekat dengannya, ternyata suka Dila, malah nekat nembak. Dila
terima.
Faya masih terpaku di depan layar
ponselnya, bingung mau menjawab apa. Ia masih tak mengerti dengan jalan pikiran
Dila, masih tak mengerti kenapa Dila mau pacaran dengan Farhan.
Iya
dil, ak tw kok. Km bsk bs ak ajak beli bakso keju depan sekolah? Biar enak
ngbrolnya
Ak
liat bsk deh fay, ak bs kl gk diajak makan sama farhan :3
***
Siang itu mentari sedang membakar
bumi. Namun Faya tak menyerah menunggu Dila pulang sekolah di lapangan basket.
Lima menit kemudian, Dila melambaikan tangannya, berlari mendekati Faya.
“Fay...hhh.... aku.... hhh..hhh...
traktir kamu.....makan....hhh...bakso....di...deph-”
“Nafas dulu, Dil, baru boleh
ngomong..”
“Iya... ayok kita ke sana, aku
traktir, deh”
“Taukok yang baru jadian...”
Dila bungkam. Ia mulai melangkah
mendahului Faya ke warung bakso favoritnya. Faya tersenyum kecil, mengetahui
isi hati Dila yang sebenarnya. Bahwa sebenarnya, semua yang terlihat bukanlah
realita.
Faya mengaduk kuah bakso yang baru
ditambah sambal itu. Sementara Dila mulai melahap baksonya yang ke-3.
“Dil, kenapa kamu jadiannya sama
dia, sih?”
“Aku juga gak ngerti kenapa...”
“Ayolah... kamu cerita sama aku...”
“Aku bingung, Fay. Kamu tau kan, aku
sukanya sama Ario, bukannya Farhan?”
“Yah terus ngapain kamu terima?
Jelas-jelas kamu cuma anggap Farhan sebagai teman biasa.”
“Aku kasian sama dia, Fay. Dia baik,
baiiiik banget sama aku. Aku gak tega nolak dia.”
Dila kembali melahap baksonya, tak
mengindahkan wajah Faya yang begitu heran.
“Iya juga, sih. Cari yang lebih
pasti,ya?”
“Mmm... padahal aku suka sama Ario,
Fay. Aku bingung sama perasaanku sendiri..”
Faya menatap keluar lewat jendela
warung, pandangannya menerawang jauh. Ia belum mampu menemukan solusi yang
tepat untuk Dila. Semua begitu kusut, seperti benang. Ujung dan pangkalnya
sulit dipertemukan. Faya meneguk es tehnya, lalu menatap Dila lekat-lekat.
“Mestinya kamu pahami dulu perasaan
apa yang kamu dapet setiap dekat sama Farhan, Dil. Kamu terlalu cepat
memutuskan. Beri dirimu waktu untuk menelaah apa yang kamu rasain.”
“Aku tau aku salah, Fay. Aku jatuh
ke orang yang salah.”
“Terus buat apa kamu jadian kalo
ujungnya juga bakalan pisah?”
Diam. Dila kembali diam. Ia
memutar-mutar sedotannya. Perasaannya bingung. Gelisah. Entah ini karena ucapan
Faya, atau memang karena dari awal sudah sangat salah? Ia tak tahu.
***
Sudah lima kali Faya mencoba sms
Dila. Tak satupun dibalasnya. Ini hari ke-7 pasca Dila resmi pacaran dengan
Farhan. Seperti ada yang hilang beberapa hari belakangan ini. Kalau biasanya ke
kantinpun makan bareng, sekarang Faya makan sendiri. Faya juga bingung, kenapa
setelah pacaran Dila bisa berubah. Ya, Faya mengerti kalau itu memang urusan
Dila dengan Farhan. Beduaan. Bukan, bukannya Faya cemburu atas kedekatan
mereka; tentu saja tidak. Faya senang, karena paling tidak Dila punya
pengalaman untuk pacaran. Tapi...oh mungkin karena belum terbiasa saja, jadinya
agak sulit menerima keadaan Dila saat ini.
Mau ajak pergi, tapi udah diajak
duluan sama Farhan. Di sms, tak dibalas, pulsa habis karena Farhan. Mau ajak
ketemuan sebentar, tapi dia udah ‘diculik’ duluan sama Farhan. Apakah Farhan
segitu sadisnya memisahkan Faya dan Dila?
Faya menggambar tornado abstrak di
atas buku sketsanya. Sambil menunggu busway
datang, ia mulai menggambar benang kusut. Perasaannya kacau, apalagi setelah
tadi nilai matematikanya 5. Dan makin hampa tanpa Dila. Sesungguhnya Faya tak
mau merusak kebahagiaan sahabatnya, dan tak mau merusak hubungan Dila dan
Farhan. Ia hanya ingin... Dila senang dengan apa yang dia jalani. Tapi Faya
tau, apa yang saat ini Dila lakukan hanya fake.
Perasaan Dila masih nyaris utuh untuk Ario.
Di sisi lain, Ario sudah punya
pacar. Nyesek? Iya, memang. Faya tahu betul bagaimana Dila begitu memuja Ario,
begitu ingin Ario bisa ‘melirik’nya suatu saat. Dila tak berdaya ketika tahu
Ario sudah punya yang lain. Padahal Ario sempat bilang kalau ia tak mau pacaran
dulu; ia ingin fokus sekolah. Tapi nyatanya? Nol besar.
Ponsel
Faya bergetar. Satu pesan dari Dila.
Hai
fay! Maaf ak gk bls smsmu. Maaf bgt ya ): td ak nonton Farhan lat. futsal.
Kyknya qt bkal btalin nnton insidious nya deh. Sori ya ):
Faya tak mau membalasnya. Buat apa? Toh semua
yang dikatakan Dila sudah jelas. Bahwa Dila seperti menjauhinya, seperti
menjaga jarak. Padahal sebelumnya tidak begini. Faya makin tak mengerti dengan
situasi saat ini; begitu gelap, susah untuk dilewati, susah untuk dipahami. Ya,
seperti yang terjadi; bahwa yang ia lihat bukanlah realita yang sesungguhnya.
Komentar
Posting Komentar