Inconsolable
You have a new
message!
Good night
bby, ilu :*
Nite too :*
Senyum terukir di wajah Sinka.
Ditariknya selimut hingga menutupi seluruh badannya. Satu pesan dari Gilang
yang mengakhiri percakapan saat itu, mampu merubah moodnya seketika. Ia memejamkan mata, menanti mimpi indah yang
temani lelapnya malam itu.
***
Disisirnya rambut hitam legam lalu
menyematkan jepit pink di atasnya. Kini, di depan cermin terpantul bayangan
gadis cantik yang siap memulai sekolah baru. Dan saat itu dia tahu, segenggam
cerita telah menunggunya untuk dijalani.
Sinka berlari-lari kecil menuju
ruang kelas. Dilihatnya semua bangku masih kosong, tanda semua siswa belum ada
yang sampai di sekolah. Ia memainkan ponselnya, mengecek Path, mengagumi foto pada Instagram,
membalas chat di akun LINE. Matanya tertuju pada room chatnya dengan Gilang. Terakhir,
ada ucapan “morning” dari Sinka untuk
Gilang. Namun Gilang belum membalasnya, bahkan sekedar membacanya pun tidak. Di
jendela kelas, terlihat sesosok anak lelaki berjalan santai menuju kelas itu.
Sinka memalingkan pandangannya, kemudian kembali asyik dengan ponselnya. Tak
berapa lama, satu persatu murid memenuhi bangku kelas.
***
Syg, udah
pulang? Aku kena macet nih
Gilang
akhirnya membalas pesan. Segera, Sinka membalasnya.
Ini di
parkiran, mau otw. Lah, kok bisa? Macet dmn?
Masih deket
sklh nih. Yaudah, hati2 ya :*
Sinka memakai helmnya, kemudian
mengendarai motor menuju rumah. Baru dua minggu yang lalu mereka bertemu untuk
sekedar nonton, tapi sekarang rasa rindu itu kembali menyerang.
Setelah mengganti bajunya, Sinka
kembali terbenam pada chat yang
dikirimkan Gilang, lelaki yang sudah menjadi kekasihnya sejak masih duduk di
bangku SMP. Sayangnya mereka memilih sekolah yang berbeda dengan negara yang
berbeda pula. Tak terlalu jauh, Gilang berada di Singapura sementara Sinka di
Indonesia. Namun tetap saja, bila rasa rindu menyerang, jarak itu terasa jauh
sekali.
Udh mkn? Ayo
makan dulu nnti sakit loh hehe :p
Udh kok :* km
udh?
Belum nih,
nunggu bundaku masak tumis kangkung :9
Bantuin dong,
jangan ditungguin aja :p
-_- udah kok,
tadi aku bantu potong kangkungnya yee
Haha iya deh
syg :* lagi apa sekarang?
Lagi mikirin
kamu dong :*
Lima
menit sudah Sinka menunggu balasan, namun Gilang bahkan belum membacanya.
Perasaannya jadi resah, ketika dilihatnya waktu telah berjalan setengah jam. “Gilang sedang apa, ya?” “Apa dia lagi chat sama cewek lain? Di sana pasti banyak yang
cantik...” “Ah, gak mungkin... dia bilang bakal setia sama aku aja, kali lagi
bales chat penting. Atau mungkin dia
lagi mandi?”
Sinka mengeluarkan buku catatannya.
Suara keyboard laptop mengisi
keheningan. Ia mulai mengetik daftar pelajaran yang baru tadi pagi dibagikan.
Diliriknya layar ponsel, dan tak ada satu notifikasi dari Gilang. Bahunya
seketika turun. “Gilang kemana, sih?”
Srrrt... kertas dipenuhi tabel
berwarna keluar dari printer. Sinka
memasang selotip lalu menempelnya pada cermin meja rias. Kemudian ia berjalan
menuju dapur, bersiap menikmati masakan bunda.
“Ada apa, Sinka?” tanya bunda penuh
selidik. “Mmm? Nggak ada apa-apa, bun.” “Kok bunda liat kamu murung aja dari
tadi? Masakan bunda keasinan, ya?” “Ah? Nggak kok, enak! Enak banget, lagi,
bun. Mungkin Sinka kecapekan aja.” “Yaudah, habisin, ya. Bunda ada arisan.”
“Oke, hati-hati, bun!”
Sampai malam tiba, tak ada sms, chat, atau tanda-tanda Gilang online di Skype. Sinka membaca komik Detective Conan nya sambil menggerutu.
Ditutupnya komik itu, lalu meraih ponselnya. Pukul 23.05. Biasanya Gilang belum
tidur. Ada bisikan dalam hatinya untuk menelpon Gilang, tapi ia takut
mengganggu. Siapa tahu Gilang sedang ada acara dan ponselnya ditinggal di
rumah? Ditariknya selimut di ujung kasur, dan mulai memejamkan mata. Sedetik
kemudian ponsel Sinka bergetar dengan nada lagu milik Yamazaki Masayoshi.
Gilang! Yes!
“Ha,
halo?”
“Sori
tadi aku lupa ngecas hape, sori banget, ya.” Kemudian terjadi keheningan.
“Ngg...nggak
apa-apa, kok,” jawab Sinka sambil tersenyum. “Kirain kamu udah ditelen alien.
Ngilang gitu aja.. kebiasaan,deh.”
“Iya,iya,
maaf.. Kok tumben belum tidur, beb?”
“Baru
aja pejamin mata, tiba-tiba ada telpon masuk. Yaa nggak jadi, deh..”
“Besok
sekolah, kan? Istirahat, sana.”
“Iya,
kamu juga, ya. Gutnait, beb.”
“Gutnait,
sayang.”
***
Entah mengapa, pagi itu badan Sinka
terasa pegal semua. Seingatnya ia tak melakukan hal berat kemarin. Setelah
sarapan, ia bergegas memakai helm dan segera berangkat sekolah. Lima menit
perjalanan, Sinka baru ingat botol minumnya tertinggal di meja makan. “Astaga,
minumku!” Motor Sinka melaju berbalik arah. Setelah mengambilnya, ia kembali
menuju arah sekolah. “Sial! Kenapa mesti pake acara macet segala, sih!”
Sekolah sudah sepi ketika Sinka memasuki
parkiran. Keluar dari BK, ia setengah berlari ke kelas. Dilihatnya semua temannya
sudah memenuhi bangku. Tempat ia duduk kemarin sudah diambil yang lain.
“Permisi, Bu. Maaf saya terlambat.” Anggukan wali kelasnya menuntun Sinka
masuk. Matanya melihat sekeliling. Seakan mengerti situasi, Bu Ayu menyuruhnya
duduk di bangku kosong di sebelah anak lelaki. “Kamu duduk di sebelah Ravi, ya.
Siapa namamu?” “Emm... saya Sinka, Bu. Sinka Firdaus.”
“Baik anak-anak, kalian boleh
istirahat.” Selesai salam, Bu Ayu meninggalkan kelas. Sinka merapikan buku-buku
yang baru didapatnya, lalu memasukkan ke tas. Ravi, teman duduknya, mulai asyik
bermain laptop. “Hai, Ravi.” Sinka mengulurkan tangan. Ravi masih menatap
monitor, sebelum akhirnya menyambut uluran tangan Sinka. “Hai. Namamu siapa
tadi? Shinta? Eh Sinka, ya?” “Iya, Sinka. Eh, duduknya harus selang-seling
cewek cowok gitu, ya?” “Iya, tadi Bu Ayu yang ngatur.” “Oh... Oke.”
Selama seminggu lebih, sekolah Sinka
belum memulai pelajaran secara efektif. Hanya pengenalan dan sedikit materi
dasar. Beberapa minggu kemudian, semua mulai sibuk dengan tugas dan PR. Sinka
merasa ia lebih dekat dengan Ravi, meskipun ia selalu meluangkan waktunya untuk
Gilang. Sejak bertukar nomor hp, ada yang berubah dari diri Sinka. Ada detak
jantung yang menari riang kala di dekat Ravi. Sinka tak tahu apakah ia suka,
atau sekedar mengagumi sosok Ravi. Kadang kala bila Gilang menghubunginya, ada
perasaan bersalah karena tak cuma Gilang yang dekat dengannya. Sinka juga
sangat berhati-hati ketika akan mengirim chat.
Ia takut akan salah kirim. Yang harusnya pada Ravi, malah terkirim pada Gilang.
Bisa berabe nanti.
Ia tak pernah dan tak mau
menceritakan Ravi pada Gilang. Cukup dia seorang saja yang tahu. Ravi mulai
mendekati Sinka. Tapi Sinka tak tahu; apakah Ravi ada rasa, atau hanya ingin
berteman saja. Dan ini menyakitkan buatnya.
You
have a new message!
Udh makan? Satu pesan dari Ravi.
Belum nih
masih baca komik hehe
Makan dulu
sana, nanti sakit
***
Blub, blub, blub. Sinka memasukkan
sebungkus mie ke dalam air mendidih. Suara hujan mendadak makin deras. Ia
melongokkan kepalanya lewat jendela, berharap jemurannya aman. Sinka berlari
mengambil baskom, memungut semua pakaian yang setengah kering, lalu membawanya
masuk. Mie nya mulai matang. Aroma mie kuah rasa tomyam beradu dengan aroma air
hujan yang mendarat di tanah. Helaan napas Sinka menyela asap putih dari mie
panas pada sumpitnya. Sesekali ia melirik layar ponsel. Tak ada satupun pesan
masuk. Baik dari Gilang atau Ravi. Bahkan notifikasi Cookie Run pun tidak. Ia menghabiskan mienya dalam diam.
Malam itu, setelah mengerjakan semua
tugas sekolahnya, ia membalas pesan dari Ravi. Juga menyapa Gilang. Sinka larut
pada percakapan Ravi dan Gilang. Kadang saat membaca balasan dari salah satu di
antara mereka, Sinka tersenyum-senyum sendiri. Kadang perasaan bimbang itu
datang, bila ia berpikir untuk memilih satu di antara mereka. Sinka tak tahu
bagaimana sebenarnya perasaan yang ia miliki pada Gilang atau Ravi. Malam itu
sebelum tidur...
Good night, vi
(;
Good night
gilangsyg :*
***
Setiap hembusan nafasnya, seakan ada
bayangan gelap yang terus menghantui benak Sinka. Setiap kali dirinya membalas
pesan dari Ravi, ada rasa sesak di dada. “Gak
mungkin aku terus berbohong sama mereka. Salah satu harus ada yang
dikorbankan,” pikirannya terus menggemakan kata-kata itu.
Siang ini langit sedang tak
bersahabat. Awan kelabu sedari tadi melayang-layang di atas kota, siap untuk
menumpahkan muatannya. Sinka bersandar pada jendela kamarnya. Bimbang. Sudah
dua minggu lamanya, ia membiarkan ponselnya terisi penuh dengan misscall dan pesan yang tak ingin ia
baca dari Gilang. Sementara ia menjauh, ia terus membalas pesan yang diberikan
Ravi. Sinka mulai mengetik pada roomchat
Gilang.
Gilang, aku
mau kita putus.
Lalu
dihapusnya.
Gilang, aku
rasa kita mesti pisah. aku mau fokus sama sekolah
Lima
menit kemudian.
Kamu serius?
Iya. Bundaku
kemarin gak sengaja ngeliat chat aku sm km. Dia gak suka ngeliat aku pny pacar
sblm waktunya.
Kl itu maumu
aku bisa apa? Kita pny jarak yg jauh, kl ketemu mesti lewat skype atau line
aja. Ribet, enakan ketemu lngsung
Aku ngerti
kok, urusan kerja ortu mana bs kita lawan? Mksi buat semuanya ya. Maaf kl aku
bkin salah sm km
Aku juga. Oke
kita putus
Dalam
kesunyian, yang terdengar hanya hembusan napas lega. Dan getar ponsel Sinka,
tanda notifikasi LINE dari Ravi.
***
“Makasi, mbak.” Satu pearl milk tea berpindah tangan pada
Sinka. Sembari meneguk minumannya, ia meraih ponsel dari kantong jeans. Dibalasnya pesan dari Ravi.
***
Tiga minggu sejak putus. Aura bimbang
masih saja sering datang merubah mood
Sinka. Harusnya ia memutuskan hubungan dengan keduanya. Baik Gilang atau Ravi.
Karena saat ini, rasanya tak adil. Ia memilih putus dengan orang yang sudah
bersemayam di hatinya selama nyaris dua tahun demi orang yang baru dikenalnya
dan tak memberi harapan yang jelas. Tiba-tiba satu pesan datang. Ravi.
Hai. Lagi apa?
Sinka
diam, memikirkan balasan.
Menurutmu?
Malah nanya
balik. Udh mkn?
Blm.
Ya mkn dulu
dong nanti sakit
Aku gak makan
sekali gak bikin sakit kok
Tak
ada balasan lagi. Setengah jam kemudian.
Bsk ulangan bu
endang?
Iya
Belajar sana
Udh
Ok
***
Dua bulan setelah putus. Sinka
membuka explore pada instagramnya.
Sesosok orang yang dikenalnya mengambil gambar dengan seorang perempuan.
Dilihatnya foto itu. Dia, orang dari masa lalu Sinka. Ya, dia Gilang. Bersama
kekasihnya yang baru. Wajah perempuan itu sedikit oriental dengan senyum
sumringah. Tangan Gilang melingkar pada pinggang si gadis.
Seketika, mata Sinka berkaca-kaca.
Namun ia segera menghapus air matanya yang akan turun. Ia sadar dirinya bukan
siapa-siapa lagi buat Gilang. Gilang berhak foto dengan siapapun, bahkan si
gadis yang sepertinya pacarnya itu. Diliriknya akun @.kimberly_a lalu membuka
profilnya. Sayangnya ter”gembok”.
Sinka
baru menyadari apa itu kehilangan. Gilang, pemain basket dengan body gagah yang begitu perfect, dilepas begitu saja dari hati
Sinka. Sampai-sampai membawa nama bundanya supaya ia percaya untuk putus.
Rasanya seperti ada rongga kosong yang walaupun tertutup semen, tetap saja
rapuh. Semua takkan bisa kembali seperti semula. Satu hal yang bisa Sinka
lakukan adalah berusaha mengikhlaskan. Melupakan apa yang sudah terjadi.
Meskipun ia tahu, kenangan akan selalu bersemayam di suatu tempat dalam
hatinya.
(based on someone's love story)
Komentar
Posting Komentar