Postingan

Terjebak di Zaman Modern (opini)

Hidup di jaman serba modern memang membuat kita terlena . Enggak hanya dari segi teknologi, tapi juga dari pola pikir kita. Percaya atau enggak, kadang kita merasa manja pada suatu hal yang sebenernya kita masih mampu melakukannya. Misalnya untuk mengambil gelas di meja belajar yang jaraknya deket banget aja masih minta tolong diambilin sama adik. Iya, pikiran kita juga ikut terkontrol di jaman modern. Sekarang ini saya juga merasakannya. Saya seperti terjerat dalam ke-modernisasi-an yang tak ada habisnya, apalagi saya sudah masuk di usia remaja, masa-masa labil yang kadang diselingi dengan budaya alay . Misalnya gini, temen-temen saya sudah pada punya gadget baru yang harganya (sudah pasti) nggak murah. Sementara saya? Cuman hp butut yang harganya enggak sampai harga sebuah BlackBerry . Yah, saya sih bersyukur aja. Tapi adakalanya saya merasa minder, dan ada perasaan ingin sama dengan mereka. Ingin menenteng iPhone 5, atau yang lain. Sementara ayah saya bilang, “ Memangny...

Jauh

Aku udah jadian! Satu pesan singkat datang dari Dila. Faya menutup buku sketsanya, lalu mengetik balasannya dengan cepat.             Wah. Kok km yg dluan pcrn sih? Aku jmblo sndiri deh ): Lima belas menit kemudian, Dila membalasnya.             Wkwkwk :D sori fay, mana aku tw dia suka sm ak. Tp fay, aku lg bingung ‘-‘             Kenapa dil?             Km kn tw aku sukanya sm siapa kn? Hening seketika. Dan semua makin ribet ketika Faya sadar, Dila pacaran dengan orang yang tidak disukainya. Sudah lama Dila jatuh cinta dengan Ario, terpesona oleh semua yang ada pada Ario. Tapi Farhan, teman baru Dila yang beberapa bulan belakangan dekat dengannya, ternyata suka Dila, malah nekat nembak. Dila terima.         ...

Dilema.

"Aku gak bisa ngajak dia ngomong." "Lah. Kenapa?" "Aku bingung mau mulai dari mana, mau mulai kayak gimana." "Terus kamu diem aja?" "Iya. Padahal setiap sebelum ketemu dia, aku selalu mikirin sesuatu yang bakal aku lakukan ke dia, tapi ternyata aku gak berani. Dan itu nyiksa banget, ternyata." "Lalu gimana kalau dia lewat di dekatmu?" "Aku cuma diem, dan kadang malah salah tingkah sendiri. Aku terlalu bodoh, masih terlalu bocah untuk mengenal cinta." "Kamu salah, tuh... cinta gak pernah kenal umur. 'Cinta' ya, bukan sekedar 'suka'..." "Ah iya deh, aku salah..." "Hahaha, kamu ada rasa pengen ngajak dia ngobrol, sebenernya?" "Banget. BANGET. Malah aku pengen ngajak dia ngobrol sebagaimana aku ngobrol seperti temen-temenku. aku pengen bisa bersikap wajar dan gak ada yang namanya salting . Tapi grogi mengalahkan segalanya. Aku pengen nyapa dia, nanya...

Rindu

Aku rindu Pada seulas senyum manis Pada seberkas pelangi di matanya Pada serenyah tawa kala hampa Aku jauh Dari pelupuk matanya Dari hatinya Dan rindu ini membuatku candu Makin lama makin terasa Makin ingin kubuka Meledak-ledak dalam jiwa Pikiranku terus melayang Hilang Tersesat Tak bisa pulang Rasa penasaranku menggebu Menorehkan beribu pertanyaan tentangnya Sedang apa? Di mana? Apa kau rindu padaku? Apa kau memikirkanku? Hatiku egois Hanya mau memenangkan satu orang Ya, dia Pikiranku juga egois Ragaku juga begitu Aku ingin merebut jiwamu Membawanya pulang Menyimpannya pada hatiku dalam-dalam Sehingga aku tak merasa kehilangan Aku tak merasa sendiri Sepi Dan sunyi Sehingga aku bisa selalu merasakan denyut nadimu Aku bisa menyentuh sukmamu Membuka isi hatimu Menyelami pikiranmu Sehingga aku bisa mencabik orang lain yang merebutmu dariku Sehingga aku bisa menyisakan satu kenangan Ya, hadirku nbl, 02/10/20...

Malam Ini

Malam ini aku sembunyi Dari kelip bintang yang menari Duduk termenung sendiri Mengharapkan dirinya kini Tuk sekedar menemani Temani jiwaku yang sepi Sunyi tak berpenghuni Malam ini aku sembunyi Dari bisikan hati yang mati Dari raungan jiwa yang sepi Dari caci maki layaknya duri Dari rintihan relung hati Masih malam ini Aku merasa sepi Jiwaku terasa sunyi Tapi aku tak sendiri Sang malam 'kan menemani Meskipun ia dingin Meskipun ia ingin pergi (nbl, 14 /09/2013)

(berita: penilaian sekolah Adi Wiyata Mandala) Foursma: "Nothing to Something"

Tidak mendapat kepercayaan pada awalnya tak membuat Foursma menyerah. Berbagai upaya dilakukan untuk menjadikan Foursma sebagai sekolah berwawasan wiyata mandala. Hal ini diterangkan oleh Drs. I Wayan Rika (3/9) lalu dalam pidatonya.             Lomba Wawasan Wiyata Mandala yang mengusung tema “Sekolah Berbudaya Berlandaskan Tri Hita Karana” ini disambut oleh semua atmosfer di sekolah kita tercinta, Foursma. Hal ini dapat dibuktikan dengan sambutan dari pagar ayu serta pagar bagus, anggota Kelompok Seni Musik, anggota Tabuh Sanggar Werdhi Yowana dan anggota Paskibra-4. Para mitra Foursma bahkan turut andil dengan memberi dukungan berupa selamat dan sukses. Mulai dari Peirce Secondary School Singapore, SMA PGRI 2 Denpasar, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Denpasar, Goethe Institut German, The Affiliated High School with Knot South Korea, SMPN 7 Denpasar, Modern School India, Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI...

Karang dan Lautan

Karang di tengah laut, menanti mentari pagi, menyongsong mentari senja, tak gentar akan ombak ganas yang menerjangnya. Dan bila badai menghadang, sang karang tetap di sana, berdiri gagah tak peduli. Sang karang di lautan. Tak akan hancur karna badai. Ia hanya tergerus waktu. Tapi ia tetap di sana. Berdiri dengan hebatnya. Bila suatu saat karang terhempas. Tergerus. Jauh. Hilang. Tapi laut tetap di sana. Menggemakan gelombang ombak nan abadi. Kapal yang menabrak sang karang akan hancur. Dan sang karang dengan tenangnya diam beribu bahasa, seakan tak terjadi apa-apa. Dan ia tersenyum pada lautan. Sang laut menyambutnya dengan ombak yang menggulung riang. Seakan tertawa dalam sinar rembulan terang. (nbl, 5 Sept 2013)