Postingan

2.0.1.9.

Gambar
Just like any other years, I learn a lot, again. Not because I am still in college, but life has never been this challenging. So much dramas, teardrops, sambats, and fighting the egos. Nevertheless, I find myself quite happy, healthy, and surrounded by my beloved ones. Awal tahun, aku bertualang dengan dua temanku, Chaca & Odri ke Bandung. Sejak akhir Desember aku menghindari Instagram dan ternyata bisa nahan ego enggak share enak-enaknya liburan. Susah, susah banget ngejalaninnya. Rasanya keren dan senang kalau bisa kasih tahu orang lain 'Ini nih, gw lagi liburan ke sini', belum lagi ngelirik-lirik jumlah likes yang didapat. Kalau dikit, jujur, ada kecewanya. Aku pernah cerita di postingan sebelumnya, aku pribadi terganggu dengan kisah-kisah orang lain di Instagram sampai bikin aku cemas dan mengasihani diri sendiri. Di satu titik, mataku lelah ngelihat isi story orang yang banyak, dengan tema yang kadang sama (ultah, sidang, liburan). Langkah bijak yang aku ambil, se...

Babak #28 - Body Shaming dan Shaming-Shaming Lainnya

Gambar
https://pin.it/xruk3ebvk6qjux Kita punya ukuran tubuh yang berbeda-beda. Tinggi, pendek, kurus, gemuk. Semua itu wajar aja. Yang enggak wajar adalah ketika kita mulai sok-sokan komentar soal itu dengan dalih bercanda. Padahal bagi orang yang dituju, komentar tersebut bisa jadi apa-apa bagi mental mereka. Enggak usah munafik, kita mungkin pernah terlibat di percakapan basa-basi tentang perubahan fisik. Biasanya,nih, kalau lagi reuni sama teman atau keluarga. Perhatiin, deh. Ada aja yang bilang gendutan, kurusan, jerawatan, bintitan, dll, dsb. Seperti enggak ada bahan pembicaraan yang lebih berbobot saja. Katanya, bercandaan. Kitanya aja yang baper. Baiklah, coba kita telusuri. Ada sebagian orang yang bodoamat dan menerima komentar itu. Tapi bagaimana dengan mereka yang (berusaha) bodoamat, diem aja saat di'bercandain', tapi setelah itu merasa sangat insecure dan kehilangan percaya diri? Tingkat sensitivitas setiap orang itu berbeda, bro. Kita enggak bisa selaman...

Babak #27 - Ketika Kamu 'Insecure'

Di usia 20, ada banyak hal tak terduga yang datang silih berganti. Masalah sama teman lah, keluarga lah, kerjaan lah, kuliah lah; pelan-pelan, kita kenalan dengan dunia yang sesungguhnya. Enggak jarang kita sering lelah. Rasanya pingin bumi tenggelamkan diri ini saja. Tapi, ya gitu. Insecure  enggak akan ragu menghantam jiwamu yang rapuh tanpa tedeng aling-aling. Enggak cuma kamu, kok, yang merasakan seperti itu. Aku juga.

Babak #26 - To My Seventeen Years Old (Untuk Diriku yang Berusia 17)

Gambar
:) Hai, Ini kamu tiga setengah tahun kemudian. Masih sama, kamu masih petite  dan sepertinya menggemuk. Bukan masalah. Alhamdulillah dirimu yang sekarang sehat-sehat saja. Di usia tujuh belas, kamu terlalu naif. Soal cinta-cintaan yang memabukkan dan perjuangan atas cita-cita yang melelahkan. Kamu seharusnya berani berkata tidak pada kesempatan yang menyesatkan. Kamu terlalu banyak mengiyakan hal tanpa pikir panjang. Kamu tahu kenapa; kamu ingin turuti egomu. Kamu seharusnya tidak berbohong karena menjalin sesuatu yang terlarang. Imbasnya? Sekarang kamu harus ekstra keras membuktikan orang-orang terkasih. Kamu seharusnya lebih mencintai dirimu sendiri daripada mencintai orang lain. Perasaan bersalah itu selalu punya celah untuk memakan semua usahamu. Kamu seharusnya fokus pada cita-citamu dan enyahkan semua hal remeh remeh. Saat itu semua pelajaran memang lebih berat, tapi kamu belum maksimal. Sebenarnya, enggak apa-apa untuk cerita ke orang lain tentang semua...

Babak #25 - Orang-orang dan Hal yang Mereka Suka

Aku selalu suka mengamati orang-orang yang melakukan sesuatu karena mereka memang suka dan tekun. Enggak pernah enggak kagum sama mereka yang sudah tahu sukanya di mana. Oya, enggak gampang, loh, ngeseriusin apa yang disuka. Kalian pasti punya satu temen yang jago banget di suatu bidang. Aku punya temen yang jago gambar. Kalau merhatiin mereka lagi bikin sketsa anime atau lagi mewarnai pakai cat air Koi, kharisma mereka tuh langsung keluar. Kayak otomatis ada daya tariknya aja gitu. Ada juga temen yang 1000 kali lipat terlihat lebih keren pas mereka lagi main gitar, ngegame, atau lagi nyusun kodingan. Terkadang aku iri sama mereka yang selalu bisa lancar-lancar aja menjalani apa yang mereka suka. Dukungan datang dari keluarga secara penuh, dan lingkungannya juga setuju. Di sisi lain ada juga yang harus pontang-panting minta restu orangtua supaya dibolehin main yang mereka suka atau nekuni hobi yang mereka suka. Aku mungkin termasuk di sini. Ada masa ketika aku down  sampai en...

Babak #24 - Adik

Gambar
*akhirnya kembali menulis setelah pusing seminggu* Seminggu yang lalu, di tanggal 23, adikku berulang tahun yang ke-17. Di sini aku akan cerita tentang dia. Hitung-hitung sebagai hadiah ulang tahunnya hehe. Aku bertemu dengannya waktu usiaku 3,5 tahun. Dia lahir di bulan Februari dan nyaris melalui operasi sesar. Kata mama, waktu di dalam kandungan, kepala adikku enggak mau turun sampai akhirnya dia muter sendiri waktu usia kandungan sudah besar. Sewaktu lahir, dia punya banyak nama panggilan, yang paling kuingat adalah adik kabau.  Sampai sekarang aku enggak tahu kenapa bisa begitu. Adikku waktu bayi terlihat seperti cowok. Mukanya judes dan mirip ayah. Sewaktu balita, hobinya mengamuk. Dia akan menangis kencang atau menjadi bawel yang berujung pada: dia ngantuk lalu tidur sendiri. Kebiasaan ini terus ada hingga sekarang. Heran. Kalau sudah menggerutu begitu aku biasanya menggoda dia yang punya perut buncit dengan bilang "Ibu hamil!" (sebenarnya norak banget si...

Babak #23 - Kena Revolusi Barang Elektronik

Manusia zaman sekarang pasti enggak bisa lepas dari yang namanya barang elektronik. Begitupun dengan aku. Selama 20 tahun, ada banyak sekali yang berubah dan cepat sekali. Mau enggak mau aku harus fleksibel mengikuti arusnya. Lelah~ Aku masih ingat pertama kali punya komputer di rumah tuh masih berbentuk kubuk segede gaban. Aku senang sekali main PacMan terus ngotak atik wallpaper Windows 98 (atau XP ya? Lupa) jadi pemandangan laut atau padang rumput hijau. Di zaman itu HP mama dan ayah masih Nokia yang layarnya belum ada warnanya hahaha. Belum kenal lagu MP3; dengerin ringtone yang itu-itu aja udah seneng. Dulu temen-temen aku di TK udah banyak yang nenteng HP Nokia lebih dari satu dan casing- nya keren bisa diganti gambar kartun! Boro-boro beli HP, aku beli sepatu yang ada rodanya aja enggak dibolehin hahaha. Teknologi makin canggih waktu aku SD. Di sekolah ada pelajaran Komputer, yang mana aku belajar ngetik di Word, PowerPoint, dan Excel. Inget banget tugasnya dulu bikin me...