Postingan

Ngerjain Skripsi Sampe Masuk Mimpi~

Gambar
10/07/21 Sebuah catatan menuju bertoga. Aku yakin kalian yang baca juga sudah/sedang/akan punya kesulitan skripsi masing-masing. Kalau yang ini cerita versiku. Enjoy ur popcorn, sebab cerita ini cukup panjang. --- 4/11 (sebulan sebelum sidang--tahun 2020) Setiap orang punya cara dan pengalaman masing2 untuk lulus. Untuk saya, skripsi adalah sebuah project tentang melawan diri sendiri. Tentang melawan rasa capek, males, insekyur, pengen nyerah di tengah, takut salah. counterpain adalah teman baikku. Pengen nyalahin orang, tapi pas ngecek lagi yang salah ya diri sendiri. Pengen nyalahin keadaan yang lagi pandemi dan stres, tapi ya gabisa diubah. Nungguin motivasi dateng, sampe Aldi Taher jadi Presiden AS juga gabakal dateng. Terima aja kalau memang sulit dan pengen nangis. Jangan lama-lama tapi. Kalau kebawa suasana malah lupa ada yg perlu dikelarin. Pernah baca di twitter, katanya skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai. Semuanya hanya bisa diselesaikan kalau udah paham itu adl ke...

where?

 di mana? where? setiap sudut kota bagai sebuah wahana petak umpet. tembok bertato, jalanan yang habis separuh oleh mobil parkir paralel, sudut gang tempat mereka membeli es kelapa muda yang-tak-muda-muda-amat, kios teh poci depan sebuah sekolah favorit; raga berkelana tapi tiada daya. yang dicari tetap nihil. setiap sudut keramaian adalah riuh semu, seperti isi pikiran yang bising tanpa jeda. jika lampu kota di setiap jengkal adalah petunjuk, tentu raga ini sudah menemukanmu di jarak 10km yang lalu. gemuruh rel kereta pun tak jua sunyikan pikiran. di mana? terakhir kali kau bilang akan turun bersama debu, merangkak perlahan lewat jendela kamarku. aku buka jendela lebar-lebar, yang sampai hanyalah angin kering nan kosong. bahkan hujan di atap pun bernada sumbang. di mana? pukul 2 pagi adalah waktunya mataku terpejam. satu jam selanjutnya hanya terisi keheningan. jeda terjadi sangat panjang dan lamban. ini, menjadi saat yang paling tenang. detak jantung bahkan tak meracau, tak berlo...

Hal-hal yang Kusadari selama "Skincare Journey"

Gambar
sumber: freepik Jor-joran pengen kulit glowing bening manja dengan hasil cepat, tapi yang kubutuhkan sebenarnya udah ada on the ground~ Lagunya Rose, vokalis Blackpink kesukaanku, langsung terngiang waktu nulis ini. Pasti udah pada dengerin On the Ground  juga, kan? Bagus, kan??? Arti lagu itu emang ngena pol. Kayak ngasih tau: ngapain berusaha keras pengen 'di atas', padahal semua yang dibutuhkan tuh udah ada dan harus disyukuri. Sama kayak dunia perskinkeran yang aku lewati sekitar setahunan ini ehehe. Bener-bener belajar kulitku maunya apa, butuhnya apa, dan cari tau produk apa yang cocok sama aku + mana yang nggak. 2019-2020 Aku mulai dulu dari kondisi kulitku sejak remaja sampai pertengahan tahun 2019, ya. Jenis kulitku normal to dry, sangat jarang jerawatan yang besar-besar. Produk yang dipakai cuma tiga: Hada Labo Gokujyun Moist Lotion, pelembab Wardah dari series Aloe Hydra Mild, dan sunscreen Emina SPF 30. Jarang makeup full, kecuali lagi perform nari atau dance. Akupu...

'Tuhan yang Kesepian': Blak-blakan "Nyentil" Para Muslim Masa Kini

Gambar
bisa dibaca gratis di iPusnas^^ Hampir semua buku tentang keislaman yang pernah kubaca punya tone  yang positif, kalem, dan berisi nasehat yang gamblang. Tapi, buku karya Tasirun Sulaiman ini beda banget. Dia berhasil bikin aku ngomong dalam hati, "Oh iya, ya... Kok gak kepikiran, ya?". Isinya bicara soal realita gimana ajaran Islam diterapkan melenceng dari yang seharusnya. Jadi semacam menyindir, tapi pesannya balik untuk pembaca muslim juga. Buku ini di luar dugaan ternyata bagus. Berisikan sarkas penerapan ajaran Islam saat ini. Tentang mereka yang hipokrit, yang mati-matian belain Islam pakai slogan agama yang paling benar, tapi juga bikin perpecahan sendiri. Tentang ada banyak orang haji atau umroh, tapi hatinya sebenernya kosong karena niat ibadah itu untuk dirinya (biar dipanggil pak haji, biar dihormati orang, biar naik jabatan, dll). Bukan murni karena Allah. Out of the box karena penulis seperti ngajak kita buka mata, belajar jadi muslim yang baik dari hal-hal yan...

Merawat Perbedaan, Katanya

Gambar
kita terlalu sibuk membela kelompok sendiri sampai lupa sudah menyakiti hati kelompok lainnya. Setelah merantau jadi sadar, ketaatan beragama itu tergantung dari diri sendiri. Kadang nggak selalu dipengaruhi lingkungan. Mau tinggal sebagai mayoritas atau mau tinggal sebagai minoritas, yang terpenting adalah gimana kita punya prinsip ketuhanan sesuai dengan yang kita percaya. Jadi bagian dari mayoritas, menurutku, nilai plusnya adalah kita bisa menikmati fasilitas dengan mudah. Terus bisa mudah menemukan teman yang satu keyakinan. Tapi nggak semua yang satu keyakinan itu taat. Pun sebaliknya, sebagai minoritas kita mungkin ga dapet akses adzan dari masjid terdekat atau sulit ke gereja atau nggak bisa mebanten layaknya di daerah asal. Beberapa temen ada yang nggak boleh makan sapi dan ada yang nggak boleh makan babi. Tapi mereka selalu mengingatkan kita utk beribadah, bahkan saat nurani kita pengen lalai dengan sengaja. Ada kalanya aku merasa lebih nyaman tinggal sebagai minoritas atau ...

Pelajaran dari Masa Kecil

Gambar
catatan tengah malam --- Lalu lintas pikiran sedang ramai, jadi lebih baik aku uraikan satu persatu. Ada nilai-nilai dari pengalaman masa kecil yang--baru aku sadari--sangat penting untuk bikin aku terus tumbuh. Nilai2 itu kadang lupa diterapkan saat dewasa. Emang sih, ada banyak hal yg terjadi selama jadi kita yang sekarang, yg (misalnya) bisa bikin org yg ambis bgt terus pas gede jadi org yg go with the flow. Kalau versi aku, kadang aku lupa untuk bersikap bodoamat dari kata2 org dan lupa untuk tetep pede tunjukin yang kita punya. Gampang insecure-an. me, circa 2002 Kalau liat foto pas fesyensyow di acara TK dulu, rasanya ada banget yang dipelajari dari kejadian sebelum foto itu ada. Supaya gampang, aku copas aja caption foto ig yang gk jadi aku publish ini: It is probably one of my fav childhood photos. Here's what behind this photo: This 4-year-old girl had her first fashion show at school and did it as a couple with classmate. Days before she came out on stage (and had ...

Cukup (cerpen)

Gambar
 sudah terbit di tempat rahasiaku hehe tapi pengen publish di sini juga// --- taken 311217 "Suatu saat kamu akan memohon." Itu katamu, dua hari yang lalu. Waktu itu aku tidak bisa bilang apapun, malahan aku menunduk saja sambil melirik cimolku yang sisa 3 di plastik. Rasanya aku pingin minta maaf karena sudah merepotkan. Aku mungkin terlalu misterius sampai dia hampir menyerah. Setiap hari dia menghadapi kabut tebal. Menyibaknya sendirian. Memohon? Memohon apa? Memohon untuk kembali? Kabut tebal harusnya bukan hal yang pelik kalau dia mau lebih berusaha. Aku tidak sesulit itu. Mungkin, ini masih benar-benar mungkin, asa untuk mencinta sudah tidak lagi di dalam jiwanya. Apa aku egois? Bisa jadi. Bisa juga tidak. Tiga tahun. Nyaris seribu hari, sih, kalau saja aku tidak meruntuhkan ekspektasinya. Selama tiga tahun itu, ada sekitar sepertiganya bagai ajang uji kesabaran buatku. Empat wanita idaman lain. Tuduhan stalking. Tuduhan pelecehan seksual. Dan sebagainya, dan sebagainya....