Postingan

'Tuhan yang Kesepian': Blak-blakan "Nyentil" Para Muslim Masa Kini

Gambar
bisa dibaca gratis di iPusnas^^ Hampir semua buku tentang keislaman yang pernah kubaca punya tone  yang positif, kalem, dan berisi nasehat yang gamblang. Tapi, buku karya Tasirun Sulaiman ini beda banget. Dia berhasil bikin aku ngomong dalam hati, "Oh iya, ya... Kok gak kepikiran, ya?". Isinya bicara soal realita gimana ajaran Islam diterapkan melenceng dari yang seharusnya. Jadi semacam menyindir, tapi pesannya balik untuk pembaca muslim juga. Buku ini di luar dugaan ternyata bagus. Berisikan sarkas penerapan ajaran Islam saat ini. Tentang mereka yang hipokrit, yang mati-matian belain Islam pakai slogan agama yang paling benar, tapi juga bikin perpecahan sendiri. Tentang ada banyak orang haji atau umroh, tapi hatinya sebenernya kosong karena niat ibadah itu untuk dirinya (biar dipanggil pak haji, biar dihormati orang, biar naik jabatan, dll). Bukan murni karena Allah. Out of the box karena penulis seperti ngajak kita buka mata, belajar jadi muslim yang baik dari hal-hal yan...

Merawat Perbedaan, Katanya

Gambar
kita terlalu sibuk membela kelompok sendiri sampai lupa sudah menyakiti hati kelompok lainnya. Setelah merantau jadi sadar, ketaatan beragama itu tergantung dari diri sendiri. Kadang nggak selalu dipengaruhi lingkungan. Mau tinggal sebagai mayoritas atau mau tinggal sebagai minoritas, yang terpenting adalah gimana kita punya prinsip ketuhanan sesuai dengan yang kita percaya. Jadi bagian dari mayoritas, menurutku, nilai plusnya adalah kita bisa menikmati fasilitas dengan mudah. Terus bisa mudah menemukan teman yang satu keyakinan. Tapi nggak semua yang satu keyakinan itu taat. Pun sebaliknya, sebagai minoritas kita mungkin ga dapet akses adzan dari masjid terdekat atau sulit ke gereja atau nggak bisa mebanten layaknya di daerah asal. Beberapa temen ada yang nggak boleh makan sapi dan ada yang nggak boleh makan babi. Tapi mereka selalu mengingatkan kita utk beribadah, bahkan saat nurani kita pengen lalai dengan sengaja. Ada kalanya aku merasa lebih nyaman tinggal sebagai minoritas atau ...

Pelajaran dari Masa Kecil

Gambar
catatan tengah malam --- Lalu lintas pikiran sedang ramai, jadi lebih baik aku uraikan satu persatu. Ada nilai-nilai dari pengalaman masa kecil yang--baru aku sadari--sangat penting untuk bikin aku terus tumbuh. Nilai2 itu kadang lupa diterapkan saat dewasa. Emang sih, ada banyak hal yg terjadi selama jadi kita yang sekarang, yg (misalnya) bisa bikin org yg ambis bgt terus pas gede jadi org yg go with the flow. Kalau versi aku, kadang aku lupa untuk bersikap bodoamat dari kata2 org dan lupa untuk tetep pede tunjukin yang kita punya. Gampang insecure-an. me, circa 2002 Kalau liat foto pas fesyensyow di acara TK dulu, rasanya ada banget yang dipelajari dari kejadian sebelum foto itu ada. Supaya gampang, aku copas aja caption foto ig yang gk jadi aku publish ini: It is probably one of my fav childhood photos. Here's what behind this photo: This 4-year-old girl had her first fashion show at school and did it as a couple with classmate. Days before she came out on stage (and had ...

Cukup (cerpen)

Gambar
 sudah terbit di tempat rahasiaku hehe tapi pengen publish di sini juga// --- taken 311217 "Suatu saat kamu akan memohon." Itu katamu, dua hari yang lalu. Waktu itu aku tidak bisa bilang apapun, malahan aku menunduk saja sambil melirik cimolku yang sisa 3 di plastik. Rasanya aku pingin minta maaf karena sudah merepotkan. Aku mungkin terlalu misterius sampai dia hampir menyerah. Setiap hari dia menghadapi kabut tebal. Menyibaknya sendirian. Memohon? Memohon apa? Memohon untuk kembali? Kabut tebal harusnya bukan hal yang pelik kalau dia mau lebih berusaha. Aku tidak sesulit itu. Mungkin, ini masih benar-benar mungkin, asa untuk mencinta sudah tidak lagi di dalam jiwanya. Apa aku egois? Bisa jadi. Bisa juga tidak. Tiga tahun. Nyaris seribu hari, sih, kalau saja aku tidak meruntuhkan ekspektasinya. Selama tiga tahun itu, ada sekitar sepertiganya bagai ajang uji kesabaran buatku. Empat wanita idaman lain. Tuduhan stalking. Tuduhan pelecehan seksual. Dan sebagainya, dan sebagainya....

Almost 6 Months #StayAtHome (#DiKosanAja)

Gambar
Since the corona virus vastly emerged in Indonesia and spread throughout the country, the government announced that we should stay at home to prevent the disease. Another policies then followed. Only sick people wear the mask--and then later all should wear mask. Work from home. Go online shopping. Shops are closed. Do not gather in groups. Stay away 1 meter from others. Our life has changed in a very short time. This pandemic hit all aspects of our life, indeed. At that moment, I was still an intern in Glints. I used to go to office almost everyday and went there by bus. I still remembered how crowded the bus is, filled with people who work around Jaksel area. It was so rare to have a seat so I had to stand up for almost an hour for one trip (hehe). Not to mention that there were a looot of traffics along the way home. But now I miss it so much. Two weeks after that, the office policy told us to work from home until it was safe enough to work back at office. I enjoyed it for couple da...

Pengalaman Magang di detikcom?

Gambar
Fyi, aku daftar magang ke detikcom karena senior aku di kampus yang pernah magang di sana ngasih tau kalau detikHealth lagi buka lowongan untuk magang. Jadi, aku langsung email ke Redpelnya kanal tsb. Setelah melamar-lamar ke beberapa tempat magang, aku akhirnya menerima email untuk diundang wawancara di detikcom sekitar awal Juli. Inget banget waktu itu nunggu jam 10 (karena terlalu cepet datengnya) gabut di emperan gedung Bank Mega. Gedung ini tuh satu kawasan sama gedung Trans. Remember, detikcom udah diakuisisi sama PT Trans Digital Media. Makanya ada di dalam gedung Trans bersama CNN Indonesia, CNBC, dan media-media Trans laen. Singkat cerita, aku ketemu sama HRD dulu (Mas Nanang) dan diwawancara sama Redpel detikHealth, Mas Uyung. Terus pertanyaannya lebih ke komitmen sih dan nanya jadwal kuliahnya gimana. Gapake tes tulis. Enggak lama, wawancara kelar terus aku langsung balik. Pengumumannya via email, lalu aku disuruh datang hari pertama di tanggal 15 Juli 2019. Okeh, he...

Suatu Hari Bersama Ultimagz

Gambar
<3 Masuk Ultimagz sudah jadi mimpi sejak aku mantap memutuskan kuliah di UMN. Alasannya, aku perlu tempat untuk menampung keinginanku: belajar dan berkembang di bidang Jurnalistik *anjay*. Maka dengan pedenya aku daftar dan ikut tahapannya di awal masuk kuliah. Namun, ternyata Tuhan bilang "Enggak". Langkahku terhenti. Ultimagz enggak butuh aku saat itu, tapi yang lain yang lebih kompeten. Luka setelah ditolak itu membekas. Banyak pertanyaan wawancara yang terngiang, dan bagaimana aku menjawabnya dengan ego kala itu. Aku putuskan menghabiskan masa-masa awal kuliah dengan nari tradisional dan dance cover k-pop di dua UKM. Senin-Kamis selalu pulang malam. Singkat cerita, puluhan Senin-Kamis terlewati dan aku sampai di semester 3. Tekadku bulat untuk masuk media kampus lain, bahkan aku sudah survei mau ambil divisi apa. Suatu hari, Fanni temenku nge- share Ultimagz lagi oprec dan muncul di Line. Aku langsung kepikiran: kayaknya nyesel deh kalau enggak daftar . Seming...